
Gunungkidul-suarainfo.com- Tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala kembali menghidupkan warisan leluhur di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul, Senin malam (19/10/2026). Prosesi sakral ini menghadirkan 34 gambaran pada kain pembungkus cupu yang selama ini menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.
Sejak siang, warga mengikuti ziarah ke makam Kyai Sayid Panjolo. Selanjutnya, masyarakat menjalani kenduri sebagai bagian dari rangkaian tradisi. Puncaknya, warga menyaksikan pembukaan tiga cupu sekitar pukul 23.00 WIB.
Ketiga cupu tersebut memiliki makna tersendiri. Cupu Semar Kinandu menggambarkan kehidupan penguasa dan pejabat tinggi. Sementara itu, Cupu Palang Kinantang berkaitan dengan masyarakat menengah ke bawah. Adapun Cupu Kenthiwiri menggambarkan kehidupan rakyat jelata.
Dalam prosesi tahun ini, masyarakat menemukan beragam bentuk pada kain mori, tutup peti, serta posisi ketiga cupu. Gambaran tersebut meliputi pulau Sulawesi, lima ekor ikan, gunungan, Semar, Garuda, perahu kecil, gajah, tikus, anjing, hingga sejumlah tokoh wayang.
Selain itu, warga mencatat angka delapan dan tiga, gambar gunung, perempuan, anak-anak, serta ayam jantan dan betina. Mereka juga menemukan bercak merah kering, rambut, biji cabai, dan kondisi kain pembungkus yang sebagian masih basah.
Temuan lainnya mencakup lubang pada sisi timur tutup peti dan bunga yang tampak hangus setelah tutup dibuka. Cupu Semar Kinandu dan Palang Kinantang tetap tegak, sedangkan Cupu Kenthiwiri tampak miring ke arah tenggara.
Meski demikian, juru waris tidak memberikan tafsir atas temuan tersebut. Masyarakat memiliki kepercayaan turun-temurun bahwa gambaran pada kain pembungkus cupu dapat menjadi petunjuk tentang peristiwa mendatang. Namun, kepercayaan itu merupakan bagian dari tradisi budaya, bukan kepastian mengenai masa depan.
Pembukaan Cupu Kyai Panjala bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi ruang perjumpaan warga dengan sejarah, nilai kebersamaan, dan warisan leluhur.
Karena itu, masyarakat perlu merawatnya dengan sikap terbuka dan bijaksana. Generasi muda juga dapat mengenal tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya Gunungkidul yang layak dijaga dan diperkenalkan kepada khalayak luas.
Mari mengenal Cupu Kyai Panjala, menghormati kearifan lokal, dan menjaga warisan budaya Gunungkidul agar tetap hidup lintas generasi.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).

















































































































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan