
Sleman,suarainfo.com– Festival seni rupa kontemporer ARTJOG 2026 kembali hadir mulai 19 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Tahun ini, ARTJOG memasuki gelaran ke-19 dengan mengusung tema Ars Longa: Generatio.





Tema tersebut menjadi bagian pertama dari Ars Longa Trilogia, rangkaian perjalanan seni yang akan berlangsung hingga 2028. Melalui tema ini, ARTJOG menghadirkan dialog, kolaborasi, dan praktik seni lintas generasi.
Founder ARTJOG, Heri Pemad, menegaskan bahwa kehadiran kurator Farah Wardani untuk periode 2026–2028 menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan ARTJOG.
Menurut Heri, konsep trilogi menunjukkan komitmen jangka panjang sekaligus menepis keraguan terhadap keberlangsungan gerakan seni yang telah berjalan hampir dua dekade.
“Berbicara tentang tiga tahun ke depan adalah sebuah komitmen. Paling tidak, ARTJOG masih akan ada dalam tiga tahun mendatang,” ujar Heri dalam media gathering di Wanasekar Resort, Sleman, Kamis (11/6/2026).
Selain menghadirkan pameran seni rupa, ARTJOG terus memperkuat visi sebagai peristiwa budaya yang lebih luas. Heri menyebut konsep Lebaran Seni kini semakin relevan sebagai ruang pertemuan para seniman dan pelaku budaya.
Lebaran Seni tidak hanya berlangsung sehari. Sebaliknya, perayaan ini hadir selama berbulan-bulan melalui berbagai kegiatan seni yang melibatkan publik secara aktif.
ARTJOG juga memperkuat kolaborasi melalui Jogja Art Weeks (JAW) yang tahun ini bekerja sama dengan Festicity dari Forum Jogja Festival.
Karena itu, keterhubungan antar-festival diharapkan mampu membangun semangat kebersamaan sekaligus memperluas ekosistem seni di Yogyakarta dan sekitarnya.
Kurator ARTJOG 2026, Farah Wardani, menjelaskan bahwa tema Generatio tidak hanya membahas regenerasi seniman. Namun, tema ini juga menyoroti luka, trauma, kegelisahan, serta tantangan yang dihadapi generasi masa kini.
Banyak karya yang lolos kurasi mengangkat isu krisis lingkungan, ketidakpastian ekonomi, demonstrasi, hingga berbagai bentuk protes sosial.
“Luka, rasa sakit, trauma, dan kegelisahan hadir dalam banyak karya. Tentu masing-masing seniman mengolahnya dengan bahasa artistik yang berbeda,” kata Farah.
Farah menilai kemunculan tema tersebut menjadi cerminan kondisi zaman. Oleh sebab itu, ARTJOG 2026 diharapkan menjadi ruang refleksi yang mengajak pengunjung melihat kembali posisi mereka dalam perubahan sosial yang terus berlangsung.
Dengan demikian, seni tidak hanya menjadi tontonan. Lebih dari itu, seni menjadi medium dialog, pemahaman, dan harapan bagi masa depan.
Seniman Gading mengungkapkan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung ARTJOG, mulai dari pengunjung, pembeli tiket, pembaca publikasi, hingga para penikmat karya seni.
Menurutnya, dukungan publik menjadi kekuatan utama yang membuat ARTJOG terus berkembang dan menjadi salah satu pameran seni paling dinantikan setiap tahun.
Mari hadir dan merayakan ARTJOG 2026. Nikmati karya-karya terbaik seniman Indonesia dan mancanegara. Rasakan pengalaman seni yang menginspirasi, menggugah, dan mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang kreatif.






































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan