
Yogyakarta,suarainfo.com- Karang Taruna Kota Yogyakarta memperkuat regenerasi kepemimpinan pemuda melalui Temu Karya yang digelar di DPRD Kota Yogyakarta. (9/5/2026). Forum tersebut menjadi langkah penting untuk membangun organisasi yang lebih solid dan aktif di tengah masyarakat.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan organisasi akan berkembang apabila mampu melakukan refleksi dan pembenahan secara terarah.
“Suatu organisasi kalau bisa merefleksi secara spesifik, organisasi itu akan bisa maju,” ujarnya.
Selain itu, ia berharap kepengurusan baru Karang Taruna segera terbentuk agar program sosial dan pemberdayaan pemuda berjalan lebih cepat.
Menurut Wawan, Karang Taruna memiliki posisi strategis dalam membantu pemerintah mengatasi persoalan sosial, terutama pengangguran anak muda.Karena itu, Pemkot Yogyakarta terus membangun kolaborasi bersama berbagai pihak, seperti Kadin dan HIPMI, guna membuka peluang usaha serta pemberdayaan generasi muda.
Wawan menambahkan, organisasi akan berkembang jika mampu melakukan evaluasi dan pembenahan secara terarah.
“Organisasi akan maju jika mampu merefleksi diri secara spesifik,” ujarnya.
Ia juga meminta kepengurusan baru segera menyusun program kerja dan memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pemkot Yogyakarta terus membuka ruang pemberdayaan bagi generasi muda. Karena itu, pemerintah menggandeng Kadin dan HIPMI untuk menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja baru.
Selain itu, Yogyakarta juga diperkuat sebagai kota festival berbasis ekonomi kreatif dan seni budaya. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi anak muda untuk berkembang.
“Karang Taruna harus hadir dan mengambil peran,” kata Wawan.
Menurutnya, organisasi kepemudaan tidak hanya fokus pada pergantian kepengurusan. Namun, organisasi juga harus mampu menghadirkan solusi sosial bagi masyarakat.

Ketua Karang Taruna DIY, Gusti Kanjeng Ratu Hayu, menilai etika organisasi menjadi fondasi penting dalam regenerasi kepemimpinan.
Ia meminta seluruh anggota menjaga persatuan dan menghindari konflik internal yang dapat menghambat perkembangan organisasi.
“Etika akan membedakan organisasi sehat dengan organisasi yang penuh konflik,” ujarnya.
Selain itu, GKR Hayu mendorong kader muda berani tampil dan mengambil peran kepemimpinan. (Raja/**).































































































































































































































Tinggalkan Balasan