
Bantul-suarainfo.com- Ornamen bukan sekadar hiasan. Di balik garis, sulur, bunga, dan bentuk yang tampak indah, tersimpan jejak sejarah, perjumpaan budaya, serta gagasan leluhur.


Pesan itu mengemuka dalam lokakarya “Menelusuri Bentuk: Mengenal Ornamen Nusantara melalui Sketsa dan Warna pada Media Kertas” dalam rangkaian Festival Seni Ornamen 2026, di Equalitera Art . Minggu, (13/9/2026).


Pramudita Nur Aini, pemateri dari HMI Kriya, FSRD ISI Yogyakarta, mengajak peserta melihat ornamen secara lebih utuh. Peserta tidak hanya menerima pemaparan, tetapi juga mengamati referensi, membuat sketsa, kemudian memberi warna pada ornamen yang dipilih.


Dalam lokakarya tersebut, peserta diajak mengulik perjalanan ornamen Jepara melalui tiga periode, yaitu zaman Ratu Kalinyamat, Citra Sumo, dan Kartini. Setiap zaman menghadirkan karakter yang berbeda. Namun, ketiganya memperlihatkan bagaimana ornamen tumbuh mengikuti kehidupan masyarakat dan perubahan zaman.Pada masa Ratu Kalinyamat, Jepara berkembang sebagai kawasan pelabuhan. Karena itu, terjadi perjumpaan budaya Cina, India, serta tradisi Hindu-Buddha.

Jejak tersebut terlihat dalam sejumlah bentuk ornamen. Motif teratai, misalnya, memiliki kedekatan dengan tradisi Hindu-Buddha. Sementara itu, ornamen pada kawasan Mantingan menampilkan stilasi bentuk hewan yang menyatu dengan sulur sehingga bentuk aslinya tidak tampil secara gamblang.
Berikutnya, periode Citra Sumo memperlihatkan percampuran ornamen Jepara dengan pengaruh Eropa, terutama gaya Barok dan Rokoko.Perubahan itu berkaitan dengan konteks perdagangan pada masa VOC. Para pengrajin Jepara kemudian beradaptasi dengan kebutuhan pembeli yang sebagian besar berasal dari Eropa. Dengan demikian, ornamen tidak berdiri sendiri. Ia bergerak bersama masyarakat, perdagangan, selera, dan perubahan budaya.
Memasuki era Kartini, kisah ornamen Jepara semakin dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.Kartini melihat kondisi para pengrajin dari daerah Balik Gunung yang kala itu hidup dalam keterbatasan. Kepeduliannya mendorong upaya untuk mengembangkan kehidupan dan karya para pengrajin.
Karya mereka kemudian mendapat kesempatan tampil dalam pameran di Belanda. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan ukiran Jepara hingga semakin dikenal di dunia.



Bagi Pramudita, ornamen memiliki makna yang jauh lebih dalam.Awalnya, ia hanya melihat ornamen sebagai hiasan. Namun, setelah menggali sejarah dan filosofi, rasa ingin tahunya tumbuh.“Semakin menggali informasi tentang ornamen, semakin penasaran untuk mengenal ornamen lain,” ujarnya. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk melihat ornamen secara utuh.
Saat mengunjungi candi, rumah tradisional, atau bangunan berornamen, jangan hanya menikmati keindahannya.Sebaliknya, coba bertanya:Siapa yang membuatnya?Mengapa bentuknya seperti itu?Apa maknanya?Mengapa leluhur memilih bentuk tersebut?Dengan cara itu, masyarakat ikut menjaga pengetahuan budaya.



Kesempatan belajar ornamen masih terbuka. Festival Seni Ornamen 2026 menghadirkan lokakarya “Membuat Ornamen pada Media Keramik.” Kamis, 17 September 2026, pukul. 15.00 WIB di Equalitera Art Space Yogyakarta. Komunitas Liat Menggeliat -Ananda Putri Oktaviana
Gratis. Terbuka untuk semua umur. Kuota terbatas satu pendaftaran.Mari datang, berkarya, dan menemukan cerita di balik ornamen.
Penulis: (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).











































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan