
Bantul-suarainfo.com-Festival Seni Ornamen 2026 “Berguru pada Ornamen” menutup rangkaian acara di Equeitera Art Space, Bantul, Kamis (17/9/2026).


Pada hari terakhir, pengunjung menikmati pameran, diskusi, dan lokakarya. Selain itu, para seniman, akademisi, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat bertemu dalam satu ruang kreatif.


Festival ini mengajak publik membaca ornamen bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa budaya yang menyimpan karakter Nusantara.

Perancang program sekaligus kurator festival, Rosanto Bima Pratama, menyampaikan terima kasih kepada Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Selain itu, ia mengapresiasi para seniman, akademisi, pembicara, komunitas, media, serta masyarakat yang ikut menghidupkan festival.

Menurut Bimo, Festival Seni Ornamen 2026 berangkat dari keresahan karena masih banyak masyarakat yang belum mengenal ornamen secara lebih dekat.
Karena itu, festival hadir untuk membuka ruang belajar, bertukar gagasan, sekaligus mempertemukan karya dari berbagai daerah di Indonesia.
Sebelum memasuki rangkaian festival, tim melakukan sosialisasi di Yogyakarta, Jakarta, dan Surakarta pada Mei hingga Juni 2026.
Kemudian, panitia membuka open call. Sekitar 150 karya masuk dan selanjutnya melalui proses kurasi hingga terpilih sekitar 80 karya untuk tampil dalam festival.
Festival juga membuka ruang bagi seniman dari berbagai wilayah, termasuk Papua, Surakarta, serta kelompok disabilitas.


Akademisi sekaligus kurator, Nur Rahmat, menyebut ornamen sebagai salah satu bahasa visual Nusantara.
Melalui ornamen, masyarakat dapat membaca jejak budaya dari berbagai daerah. Papua, Jawa, Bali, dan wilayah lain menghadirkan karakter visual yang berbeda.
“Ornamen tidak hadir sekadar sebagai pelengkap. Ornamen juga dapat berbicara sendiri dan memberi nilai pada sebuah karya,” ujar Nur Rahmat.
Karya dari sejumlah seniman menghadirkan cerita tentang perjalanan Indonesia, tubuh penari, nilai benda, kehidupan sosial, serta relasi manusia dengan budaya.
Karena itu, ornamen tidak berhenti pada pola yang kaku. Ia dapat berkembang menjadi elemen estetis yang memberi nilai baru pada sebuah benda.
Dengan demikian, festival membuka ruang agar ornamen tidak berhenti sebagai pola dekoratif. Sebaliknya, ornamen dapat berkembang menjadi bahasa visual yang terus menemukan bentuk baru.
Semangat itu juga terlihat dalam lokakarya yang digelar komunitas Liat Menggeliat, komunitas kolektif perajin keramik lintas generasi dan angkatan.
Sementara itu, komunitas Liat Menggeliat ikut meramaikan festival melalui lokakarya keramik.

Imania Enur Habibah, mahasiswa ISI Yogyakarta Jurusan Kriya, mengatakan komunitasnya mengajak peserta mengenal keramik melalui ornamen.

Peserta menggunakan tanah liat Sukabumi jenis stoneware. Kemudian, mereka membentuk karya dengan teknik cetak. Setelah itu, peserta menghias karya memakai underglaze. Mereka juga menggunakan butsir, spons, air, dan alat pendukung lainnya.


Lokakarya tersebut menghadirkan pengalaman langsung. Peserta tidak hanya melihat karya. Mereka juga membuat karya sendiri.
Menurut Imania, peserta memberikan respons positif. Sebagian peserta merasa penasaran terhadap keramik. Sebagian lainnya memanfaatkan kegiatan itu untuk belajar.

Karena itu, kegiatan sederhana tersebut membuka ruang pertemuan antara seni, keterampilan, dan budaya.
“Mari kita sama-sama melestarikan budaya Indonesia, termasuk keramik dan ornamen. Kita bisa mengeksplorasinya melalui berbagai media dan motif,” kata Imania.
Mari berguru pada ornamen. Mari membaca kembali bahasa budaya Nusantara melalui karya, keramik, dan kreativitas generasi muda.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).



















































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan