
Bantul-suarainfo.com- Giat Penggerak Literasi Bantul menghadirkan ruang belajar, berbagi, dan berjejaring bagi para penggerak literasi. Kegiatan ini berlangsung di Sanggar Anak Tumbuh, Dusun Semampir, Panjangrejo, Pundong, Bantul, Minggu (30/8/2026).


Program ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Pengurus TBM dan Komunitas Literasi.” Selain itu, kegiatan menjadi bagian dari rangkaian Satu Lentera yang mendapat dukungan dan apresiasi Badan Bahasa.

Founder Sanggar Anak Tumbuh, Atina Rizanatul Fahriyah, menjelaskan bahwa Giat Penggerak menyasar pengurus Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pegiat literasi, relawan, serta organisasi kepemudaan.
Sebelumnya, Satu Lentera menggelar Rambu Literasi. Program tersebut menyasar guru, orang tua, dan pustakawan.Kini, Giat Penggerak memperluas ruang perjumpaan. Peserta datang dari Bantul, Sleman, Kota Yogyakarta, Kulon Progo, hingga Gunungkidul.
“Teman-teman berkumpul untuk saling menyampaikan praktik baik. Kemudian, mereka bisa mengadaptasi dan memodifikasinya sesuai kebutuhan TBM masing-masing,” kata Atina.

Siti Aminah, Founder TBM Delima dan pengurus Forum TBM DIY, menilai langkah tersebut penting.Menurutnya, komunitas perlu menunjukkan dampak gerakannya kepada publik. Sebab, kegiatan yang baik akan semakin kuat ketika masyarakat mengetahui manfaatnya.
“Gerakan sederhana bisa berdampak pada pemberdayaan masyarakat, dari anak sampai dewasa,” ujar Siti.
Siti juga mengajak penggerak literasi membangun kolaborasi. Ia menyebut lima unsur penting, yakni akademisi, bisnis, pemerintah, masyarakat, dan media.

Dengan kolaborasi, gerakan literasi tidak berjalan sendirian. Sebaliknya, setiap unsur dapat saling menguatkan.Selain itu, media memiliki peran penting untuk memperkenalkan praktik baik kepada masyarakat.

Penulis buku dan content creator sekaligus Founder Dawuh Guru, Ahmad Ali Adhim, melihat teknologi sebagai peluang. Namun, masyarakat perlu menggunakannya secara bijak. Gadget dan media sosial tidak cukup menjadi ruang hiburan. Keduanya juga dapat menjadi ruang belajar dan berkarya.
“Literasi itu modern, keren. dan bisa meng-upgrade diri kita,” tutur Ahmad.

Lebih jauh, ia mengajak generasi muda mengangkat permainan, cerita, dan budaya lokal. Dengan kemasan kreatif, kekayaan lokal tetap hidup di tengah derasnya teknologi.
Penulis : (Raja)
Editor : (RM.Neutron Aprima).


















































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan