
Yogyakarta,suarainfo.com – Senja turun perlahan di Pendopo dan Homestay Mantrigawen, Sabtu (20/6/2026). Aroma kopi mengalir bersama semilir angin. Di tengah suasana hangat itu, para seniman, budayawan, pegiat komunitas, dan pelaku usaha berkumpul dalam kegiatan Ngopi Sore Pak Joko. Mereka tidak sekadar menikmati secangkir kopi. Mereka merawat gagasan, menyulam harapan, dan menyalakan kesadaran budaya yang lebih dekat dengan masyarakat.

Joko Pranoto, seniman sekaligus pengusaha, membuka percakapan dengan pandangan yang sederhana namun mendalam. Menurutnya, seni tidak boleh berdiri sendiri di menara sunyi. Sebaliknya, seni harus berjalan bersama masyarakat, menyapa kehidupan sehari-hari, dan memberi makna bagi lingkungan di sekitarnya.

Ia menjelaskan, bahwa konsep MORSA bukan sekadar nama atau program. MORSA hadir sebagai ruang kesadaran yang menghubungkan seniman, budayawan, pelaku usaha, dan masyarakat dalam satu gerakan yang saling menguatkan.
Karena itu, Ia mendorong setiap individu untuk mengambil peran, dan seniman menghadirkan karya, budayawan menjaga nilai. Sementara itu, pelaku usaha membuka peluang kolaborasi. Dari sinilah ekosistem budaya tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Menurutnya , seniman akan tetap hidup ketika masyarakat merasa memiliki. Sebaliknya, budaya akan kehilangan denyutnya jika hanya menjadi tontonan tanpa keterlibatan bersama.
Dalam pandangannya, karya seni tidak cukup hanya dipamerkan. Karya juga harus mampu menyentuh hati, menggerakkan pikiran, dan membangkitkan kepedulian sosial.
Oleh sebab itu, ia mengajak para seniman untuk turun ke tengah masyarakat. Mereka perlu mendengar cerita warga, memahami perubahan zaman, dan menangkap denyut kehidupan yang terus bergerak. Dengan demikian, karya yang lahir tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki jiwa yang hidup.
”Seni yang dekat dengan rakyat akan menemukan makna sejatinya,” ungkap Joko di hadapan para seniman dalam diskusi.
Kalimat itu mengalir sederhana. Namun, maknanya menggema di ruang pendopo yang dipenuhi semangat kebersamaan.
Lebih lanjut, Joko menegaskan bahwa budaya bukan benda yang disimpan dalam lemari sejarah. Budaya merupakan denyut kehidupan yang terus bergerak mengikuti perjalanan.
Karena itu, seniman perlu mengambil bagian. Mereka tidak hanya mewarisi budaya, tetapi juga menghidupkannya melalui kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.
Selain itu, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana memperluas jangkauan budaya dan seni. Dengan cara tersebut, nilai-nilai lokal dapat dikenal lebih luas tanpa kehilangan akar dan identitasnya.
Menjelang akhir diskusi, suasana semakin reflektif. Secangkir kopi yang mulai dingin seakan menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan baru.
Di antara percakapan yang mengalir, tersimpan keyakinan bahwa seniman, budayawan akan tetap bertahan selama ada orang-orang yang bersedia menjaganya.
Joko mengajak seluruh elemen seniman untuk terus merawat ruang seni dan budaya, memperkuat kolaborasi, membuka jalan bagi lahirnya generasi kreatif yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa.
Menurutnya, membangun seni budaya berarti menjaga api peradaban agar tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima/Red).

















































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan