
Bantul-suarainfo.com- Omah Budaya Kahangnan, Bantul, menggelar event selapanan pentas Wayang Mego B’Djo Ludiro bersama Jaringan Wayang Kontemporer (JWK). Pentas ini mengangkat kisah Jataka tentang perjalanan Sang Bodhisatwa dalam menebarkan dharma dan kasih sayang.
B’Djo Ludiro menghadirkan kisah Maetribala. Ia rela menyerahkan hidupnya untuk dimakan raksasa demi menjalankan dharma kasih sayang.
Kisah tersebut membawa penonton menatap kembali makna pengorbanan, keikhlasan, dan manfaat bagi sesama.
B’Djo Ludiro mengkreasi wayangnya dengan inspirasi bentuk Mego atau awan. Bentuk awan yang selalu berubah kemudian menjadi simbol spirit hidup yang dinamis.
Tidak ada yang benar-benar tetap dalam kehidupan. Karena itu, perubahan menjadi napas utama dalam karya Wayang Mego.
Secara visual, bentuk figuratifnya masih berpijak pada pola klasik. Namun, ornamen pakaian dan aksentuasi menghadirkan gaya Mego. Selain itu, instrumen musik dan pengrawit menggunakan aplikasi AI.
Usai pentas, JWK menggelar diskusi dan kritik pementasan. Teatrawan Eko Winanrdi membahas teknik pementasan, sedangkan budayawan muda Irfan Afifi mengangkat tema nilai moral kisah Jataka. Diskusi dipandu pantomer Ficky Tri Sanjaya.
Eko Winanrdi menegaskan pentingnya latihan sebelum pementasan, apa pun bentuk dan event-nya. Menurutnya, sebuah event tidak boleh mengesampingkan kualitas pementasan.
Seorang penampil juga harus mampu memberikan sesuatu kepada audiensnya.
Sementara itu, Irfan Afifi menyoroti ajaran moral positif dalam kisah-kisah Jataka. Nilai itu antara lain semangat rela berkorban, bermanfaat bagi orang banyak, serta ikhlas atau sepi ing pamrih.
Namun, ia melihat adanya keterputusan transmisi sosial. Gejalanya tampak melalui maraknya korupsi, sifat asosial, sikap individualistik, serta menurunnya kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan.
Karena itu, kisah lama kembali menemukan ruang untuk berbicara kepada kehidupan hari ini.
Sebelum pentas dimulai, Omah Budaya Kahangnan juga membuka kelas pemula membuat wayang. Peserta mempelajari teknik dasar tatah sungging bersama Made Singamurdaya, alumni AKNSB Yogyakarta.
Dengan demikian, pertunjukan tidak berhenti di atas panggung. Penonton juga memperoleh ruang untuk belajar, mengenal, dan merawat tradisi melalui cara yang lebih dekat dengan generasi hari ini.
Pentas Wayang Mego B’Djo Ludiro mempertemukan tradisi, gagasan kontemporer, teknologi, dan refleksi sosial. Awan menjadi metafora: berubah bentuk, tetapi tetap membawa pesan.
Melalui Wayang Mego, JWK mengajak publik melihat kembali bahwa seni tradisi dapat terus bergerak tanpa kehilangan akar.
Mari menyaksikan, belajar, dan merawat wayang sebagai ruang perjumpaan antara tradisi, kreativitas, dan kehidupan.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima ).




































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan