
(Sumber : ISWBC 2026).
Sleman-suarainfo.com – The 2nd International Symposium on Wildlife Biodiversity Conservation (ISWBC) 2026 berlangsung di Alana Hotel Sleman, Yogyakarta, Kamis (11/6/2026). Simposium ini mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi konservasi, dan pembuat kebijakan untuk memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia.

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa konservasi tidak hanya melindungi satwa liar. Namun, konservasi juga menjaga ekosistem, hutan, mangrove, sungai, dan masyarakat yang bergantung pada alam.
Selain itu, AHY menilai pembangunan dan konservasi harus berjalan bersama. Karena itu, pemerintah terus mendorong pembangunan yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.“Pertanyaannya bukan memilih pembangunan atau konservasi. Sebaliknya, pertanyaannya adalah bagaimana menghadirkan pembangunan yang tetap menjaga alam,” katanya.

Menurut AHY, konektivitas ekologis menjadi bagian penting dalam pembangunan modern. Jalan, pelabuhan, bandara, dan kawasan ekonomi harus tetap mendukung pergerakan satwa serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Oleh sebab itu, perencanaan pembangunan perlu mempertimbangkan koridor satwa, kawasan hijau, dan keberlanjutan habitat alami.
Lebih lanjut, AHY menjelaskan bahwa alam merupakan infrastruktur alami yang sangat berharga.Hutan menjaga tata air. Mangrove melindungi garis pantai. Lahan basah mengurangi banjir. Sementara itu, sungai yang sehat mendukung ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat.Karena itu, pembangunan fisik perlu berjalan berdampingan dengan solusi berbasis alam.
Di sisi lain, AHY menyoroti pentingnya rehabilitasi mangrove untuk menghadapi perubahan iklim.Mangrove mampu mengurangi abrasi, meredam gelombang, melindungi keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Dengan demikian, konservasi mangrove menjadi kebutuhan lingkungan sekaligus kebutuhan ekonomi.Selain menjaga alam, pembangunan berkelanjutan juga harus melibatkan masyarakat lokal dan masyarakat adat.
Menurut AHY, pengetahuan lokal mampu memperkuat upaya konservasi. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 124,9 juta hektare kawasan hutan yang berperan penting bagi dunia.Karena itu, pengelolaan hutan harus mendukung konservasi, ketahanan pangan, energi, dan pertumbuhan ekonomi hijau secara seimbang.
Pemerintah terus memperkuat hak dan peran masyarakat adat dalam menjaga kawasan hutan.selanjutnya, pemerintah mempercepat pengembangan ekonomi karbon untuk mendukung pengurangan emisi dan pendanaan konservasi. Selain itu, pemerintah memperkuat tata kelola lanskap agar pembangunan tetap sejalan dengan perlindungan lingkungan.
Melalui ISWBC 2026, Indonesia menunjukkan komitmen kuat terhadap konservasi keanekaragaman hayati. Tidak hanya itu, Indonesia juga mendorong kolaborasi global untuk menjaga hutan, satwa liar, dan ekosistem.Dengan demikian, pembangunan dapat berjalan lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Raja).
Editor: (RM.Neutron Aprima/Red).






































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan