
Yogyakarta-suarainfo.com- Mata merekam dunia. Hati merawat makna. Sejarah menuntun langkah menuju masa depan.Semangat itulah yang hadir dalam pameran Trinetra: Lensa Mata, Mata Hati, Mata Angin di Museum Dr. Yap Prawirohusodo, Yogyakarta, Selasa (13/10/2026).
Pameran ini mengajak masyarakat menelusuri hubungan kesehatan mata, pendidikan, dan kebudayaan. Lebih dari itu, Trinetra membuka ruang refleksi tentang cara manusia melihat kehidupan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menekankan pentingnya museum sebagai ruang belajar bersama. Menurutnya, masyarakat perlu merawat ingatan kolektif agar warisan sejarah tetap hidup.
Melalui tiga perspektif, Trinetra mengajak pengunjung melihat masa lalu dengan kejernihan pikiran, memahami masa kini dengan kebijaksanaan, dan membaca masa depan dengan harapan.
Dengan demikian, museum tidak sekadar menyimpan benda bersejarah. Museum juga menumbuhkan pengetahuan, mempertemukan generasi, dan menjaga identitas bangsa.
Ketua Umum Yayasan Dr. Yap Prawirohusodo, GBPH Prabukusumo, membagikan perjalanan pengembangan Rumah Sakit Mata Dr. Yap selama 26 tahun kepemimpinannya.
Ia mengenang masa ketika fasilitas rumah sakit masih membutuhkan banyak pembenahan. Kemudian, ia mendorong perubahan secara bertahap hingga pelayanan kesehatan mata terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
Namun, pengabdian tidak berhenti di ruang periksa.Melalui Badan Sosial Mardi Wuto, kepedulian juga menyentuh penyandang disabilitas netra. Mereka memperoleh dukungan pembelajaran dan keterampilan untuk membangun kemandirian.
Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa kesehatan bukan hanya tentang melihat dengan jelas. Kesehatan juga menyangkut kesempatan, martabat, dan harapan untuk menjalani kehidupan.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menghadirkan Trinetra sebagai proyek akhir Museum Youth Internship Program 2026. Selama dua bulan, mahasiswa mempelajari pengelolaan museum, pengembangan program publik, dan komunikasi sejarah. Mereka menjalani proses belajar di Museum Dr. Yap Prawirohusodo, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Bahari.
Selanjutnya, mereka merangkai pengetahuan menjadi pameran kolaboratif.Melalui karya ini, generasi muda tidak hanya membaca sejarah. Mereka juga menyampaikan kembali kisahnya kepada masyarakat.Sebab, sejarah akan tetap bernyawa ketika generasi penerus bersedia mengenal, merawat, dan membagikannya.
Dalam perspektif budaya , museum menawarkan pengalaman yang lebih luas daripada perjalanan wisata biasa.Pengunjung dapat memperkaya wawasan, merenungkan perjalanan manusia, dan menemukan inspirasi dari masa lalu. Pengalaman tersebut membuka kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan pengetahuan dan kebudayaan.
Sementara itu, sejarah Rumah Sakit Mata Dr. Yap memperlihatkan perjalanan penting dunia kesehatan mata. Teknologi terus berubah, tetapi semangat melayani manusia tetap menjadi inti pengabdian.
Kini, Trinetra mengundang masyarakat untuk mendekat kepada sejarah melalui pengalaman yang bermakna.
Kunjungi Museum Dr. Yap Prawirohusodo di kawasan Yap Square, Jalan Simanjuntak No. B8, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta.
Jelajahi kisah di balik perkembangan kesehatan mata. Kenali jejak pendidikan dan kebudayaan. Kemudian, bawa pulang inspirasi untuk kehidupan sehari-hari.
Sebab, mata membantu kita melihat dunia. Hati mengajarkan kita memaknainya. Sejarah membantu kita menentukan arah.





































































































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan