
Sleman-suarainfo.com- Pameran Narimo Ing Pandum resmi ditutup di Grha Instiper Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (5/9/2026). Pameran ini tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga membuka ruang pertemuan antara kreativitas, publik, dan transaksi karya.
Founder Sumber Kreatif sekaligus Ketua Pameran Narimo Ing Pandum, Rahardian Gilang Wicaksono, mengatakan dampak pameran terasa hingga ruang digital.
Menurutnya, kunjungan ke profil akun Instagram AKI Jogja selama pameran meningkat signifikan. Angkanya disebut mencapai sekitar 950.000 kunjungan.
“Pameran ternyata tidak hanya berdampak secara offline, tetapi juga secara langsung di ruang digital,” ujar Rahardian.
Dampak lain terlihat dari transaksi yang terjadi selama pameran. Sejumlah peserta tidak hanya memajang karya dan produk, tetapi juga mendapat pembeli.
Rahardian mencontohkan beberapa peserta yang produknya menarik perhatian pengunjung. Produk yang awalnya hanya dipamerkan akhirnya dibeli.
Selain itu, peserta seperti Slavic Soul juga menjual merchandise dari agensi atau studionya. Beberapa produk mendapat respons langsung dari pengunjung.
Dari berbagai karya yang dipamerkan, instalasi banner menjadi salah satu daya tarik yang paling menonjol.
Pameran ini melibatkan 33 exhibitor. Pesertanya tidak hanya berasal dari Yogyakarta, tetapi juga dari luar daerah.
Rahardian menjelaskan, pengunjung yang memasuki area pameran langsung disambut beragam desain banner. Karena itu, elemen visual tersebut menjadi daya tarik sekaligus energi pembuka bagi pengunjung.
Penggunaan banner bukan sekadar kebutuhan informasi acara.Dalam konsep Narimo Ing Pandum, banner menjadi media untuk menyampaikan doa, perasaan, rasa syukur, dan terima kasih kepada Tuhan.
“Kami berusaha melahirkan kembali doa-doa dan rasa syukur melalui karya,” kata Rahardian.
Dengan begitu, pameran tidak berhenti sebagai ruang pajang. Karya menjadi bahasa untuk menyampaikan rasa, pengalaman, dan harapan.
GIK UGM juga menjadi ruang bagi berbagai kegiatan kreatif lainnya. Beberapa pameran dan kegiatan komunitas turut hadir di tempat tersebut.
Keberagaman kegiatan itu menunjukkan bahwa ruang kreatif dapat mempertemukan seniman, desainer, mahasiswa, komunitas, dan publik dalam satu ekosistem.
Dalam rangkaian apresiasi pameran, sejumlah karya dan peserta juga mendapat penghargaan.Kategori banner antara lain melibatkan Studio 3MM, sementara kategori display menyebut Yuzania.
Untuk kategori student, penghargaan diberikan kepada mahasiswa. Nama pemenang dan kategori tersebut menjadi bagian dari catatan perjalanan pameran yang mempertemukan berbagai generasi kreator.
Penutupan Pameran Narimo Ing Pandum di GIK UGM meninggalkan satu pesan: kreativitas dapat tumbuh ketika karya bertemu publik.
Lebih dari itu, karya bisa menggerakkan percakapan, membangun jejaring, bahkan membuka peluang transaksi.
Mari dukung karya kreator lokal. Datang, lihat, apresiasi, dan bila berkenan, bawa pulang karya yang berbicara kepada hati.































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan