
Bantul-suarainfo.com-Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) kembali menggelar pentas wayang kontemporer pada (11/10/2026). Kali ini, JWK mengangkat kisah Jataka dari relief Candi Borobudur melalui lakon Kelinci Shasha, yang mengajarkan ketulusan, pengorbanan, dan welas asih.

Dalang Hangno Hartono menghidupkan kisah Shasha, seekor kelinci yang rela mengorbankan tubuhnya demi seorang pertapa. Ketulusan itu menjadi inti ajaran dharma. Dalam kisah tersebut, para dewa mengangkat Shasha menjadi Dewi Bulan. Namanya juga dikaitkan dengan istilah Sasi, yang merujuk pada bulan.
Bagi Hangno Hartono, kisah Jataka memiliki ikatan emosional dengan pengalaman masa kecilnya. Lahir di Muntilan, dekat Borobudur, ia kerap mengunjungi candi tersebut, terutama setelah musim hujan.

Kabut yang menyelimuti perkampungan, suasana romantis di antara pepohonan, serta aroma batu yang tersiram hujan meninggalkan kesan mendalam. Pengalaman itu kemudian menumbuhkan ketertarikannya untuk mengolah kisah-kisah pada relief Borobudur menjadi pertunjukan wayang.
Setelah pentas, JWK menggelar diskusi mengenai bentuk pertunjukan dan tema cerita. Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., dosen Institut Seni Indonesia (ISI), menyoroti perlunya pengembangan variasi lakon Jataka. Ia juga mendorong pendalaman detail tatah sungging agar karakter visual wayang tetap kuat.

Sementara itu, budayawan Selwa Kumar mengangkat persoalan sosial di sekitar Borobudur. Ia menyoroti ironi antara pembangunan kawasan cagar budaya berskala nasional dan pemerataan ekonomi yang belum sepenuhnya dirasakan masyarakat sekitar.
Menurutnya, nilai-nilai moral yang terkandung dalam warisan budaya juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sosial.
Diskusi yang dipandu Ficky Tri Sanjaya itu turut membuka gagasan pengembangan wayang kontemporer.
Tito Pangestu Aji menilai kisah Jataka layak diangkat melalui karya yang lebih serius dan kolosal. Sebagai warisan dunia yang menyimpan ajaran moral lintas zaman, Borobudur memiliki potensi untuk menginspirasi karya monumental, termasuk film dengan beragam genre.
Sementara itu, BJ Arifin mengusulkan program pentas wayang kontemporer di sekolah. Langkah ini dapat mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya leluhur sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi.
Kisah Kelinci Shasha mengingatkan kita bahwa pengorbanan tidak selalu hadir melalui kekuatan, tetapi juga melalui ketulusan hati. Di tengah perubahan zaman, nilai welas asih, kepedulian sosial, dan keseimbangan ekologi tetap relevan.
Melalui wayang kontemporer, JWK tidak sekadar menghidupkan cerita masa lalu. JWK juga membuka ruang dialog tentang seni, lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan masa depan warisan budaya.
Mari merawat warisan Borobudur, menghidupkan nilai dharma, dan meneruskan kebijaksanaan leluhur kepada generasi mendatang.
Mari merawat warisan Borobudur, menghidupkan nilai dharma, dan meneruskan kebijaksanaan leluhur kepada generasi mendatang.
Rilis ini disusun berdasarkan materi yang diterima pada Rabu, 14/10/2026.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).










































































































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan