
Yogyakarta-suarainfo.com-Sastra bukan sekadar rangkaian kata. Sastra juga menjadi ruang untuk merawat ingatan, mengenalkan sejarah, dan menjaga warisan budaya. Semangat itulah yang mengemuka dalam peluncuran novel fiksi berbahasa Jawa Lelabuh Asmara karya Sili Suli di Pendopo Ndalem Pakuningratan, Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026).



Peluncuran novel tersebut menghadirkan harapan baru bagi perkembangan sastra Jawa. Sebab, di tengah minimnya penerbitan novel berbahasa Jawa, karya ini menawarkan perjalanan cerita yang mempertemukan cinta, sejarah, tradisi, dan keberagaman budaya.

Novel Lelabuh Asmara menghadirkan kisah berlatar tahun 1884. Ceritanya membawa pembaca menjelajahi Toraja, Semarang, Yogyakarta, hingga Nepal.

Tokoh utama bernama Surya, seorang penggembala asal Sulawesi. Ia mendapat tugas mencari Mataallo, anak tokoh adat yang diculik untuk dijadikan budak saudagar Bugis sebelum dijual ke Jawa.

Sili Suli mengungkapkan bahwa ia mengadaptasi novel berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa atas dorongan teman-temannya.
Ia mengakui bahwa menulis fiksi Jawa bukanlah bidang yang biasa ia tekuni. Namun, kecintaannya terhadap budaya mendorongnya untuk terus berkarya.
Sili Suli menghabiskan tiga tahun untuk menyelesaikan novel tersebut. Ia juga melakukan riset panjang untuk menghadirkan sekitar 30 persen sejarah Yogyakarta masa lalu.







Dalam proses adaptasi, ia melibatkan penerjemah dan editor dari kalangan masyarakat Jawa. Seniman dari Rongkop, Gunungkidul, turut melukis gunungan pada sampul novel, sementara pelukis Solo mengerjakan ilustrasi wayang.



Acara tersebut juga menghadirkan diskusi dengan moderator Mahmoud Elqadrie bertajuk “Perkembangan Novel Fiksi Bahasa Jawa Saat ini dan Prospeknya di Masa Depan”.


Melalui diskusi tersebut, para peserta membahas minimnya novel fiksi berbahasa Jawa serta peluang pengembangannya di masa depan.

Suli berharap forum ini mampu melahirkan gagasan baru untuk menghidupkan sastra Jawa dan mendorong generasi muda agar semakin mencintai bahasa ibu.

Tatik, Istri seniman Godod Sutedjo sekaligus pemilik Postnya Seni Godod, menyambut positif kegiatan tersebut.Menurutnya, acara ini membuka ruang belajar bagi generasi muda untuk mencintai bahasa dan budaya Jawa.

Ia juga mengapresiasi Sili Suli yang berasal dari Toraja, tetapi memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian budaya Jawa.“Saya bangga karena beliau bukan orang Jawa, tetapi justru ikut melestarikan budaya Jawa. Ini menjadi pelajaran bagi kita agar semakin bersemangat menjaga warisan budaya,” ungkap Tatik.

Kepala Dinas Kundho Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, turut mengapresiasi karya tersebut.Menurutnya, kecintaan terhadap budaya tidak mengenal batas suku. Sebab, menjaga bahasa berarti merawat identitas. Menjaga sastra berarti menghidupkan warisan untuk masa depan.upun tempat kelahiran. Sebaliknya, karya sastra mampu mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu ruang cerita.



Peluncuran novel ini mendapat dukungan dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan dan LPDP.



Lelabuh Asmara menghadirkan pesan sederhana tetapi bermakna: budaya akan tetap hidup ketika masyarakat terus merawatnya.


Karena itu, mari membaca, menulis, dan berkarya. Ajak generasi muda mencintai bahasa ibu.Sebab, menjaga bahasa berarti merawat identitas. Menjaga sastra berarti menghidupkan warisan untuk masa depan.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).



































































































































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan