
Yogyakarta-suarainfo.com- Hendrajati mengajak masyarakat dan pelaku usaha membangun budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Direktur PT Hendrajati sekaligus pendiri HSE Indonesia itu menyampaikan ajakan tersebut saat ditemui awak media di JEC, Yogyakarta, Minggu (27/9/2026).

Hendrajati mengatakan HSE Indonesia tidak berhenti pada pelatihan. Lembaganya juga turun ke masyarakat melalui edukasi dan kegiatan sosial.“Kami ingin membudayakan K3, keselamatan, kesehatan, dan lingkungan kerja di masyarakat,” kata Hendra.
Karena itu, HSE Indonesia hadir dalam berbagai ekspo dan kegiatan publik. Dari sana, mereka mengenalkan cara bekerja yang aman.

Hendrajati melihat K3 sebagai bagian penting dalam dunia industri. Penerapan keselamatan membantu pekerja menghindari risiko di tempat kerja.
Pada saat yang sama, budaya keselamatan ikut menjaga kelangsungan usaha.“Intinya, supaya bekerjanya selamat dan bisnisnya juga selamat,” ujarnya.
HSE Indonesia memperluas edukasi ke berbagai lapisan. Mereka menyasar masyarakat, kampus, universitas, hingga taman kanak-kanak.Selain kegiatan tatap muka, lembaga ini memakai buku sebagai sarana belajar. Hingga kini, HSE Indonesia telah membuat 24 buku tentang keselamatan dan kesehatan kerja.
Bagi Hendrajati, edukasi tidak cukup lewat percakapan. Masyarakat membutuhkan bahan yang bisa mereka baca dan pelajari kapan saja.

Karena itu, HSE Indonesia membuka ruang konsultasi K3. Masyarakat dapat bertanya tentang manfaat, tujuan, hingga penerapannya tanpa biaya.“Kami dengan senang hati memberikan informasi secara cuma-cuma,” kata Hendra.
Selanjutnya, HSE Indonesia mengajak masyarakat mengikuti kegiatan Wawasan K3 pada Selasa (29/9/2026).Kegiatan tersebut berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB dengan tema “Bekerja Selamat, Bisnis Selamat.”
Melalui forum tersebut, Hendra ingin mengingatkan kembali pentingnya keselamatan dalam aktivitas kerja.Keikutsertaan HSE Indonesia di Yogyakomtek 2026 JEC menjadi bagian dari langkah tersebut. Hendrajati mengaku mengenal kegiatan di lokasi itu sejak sekitar lima tahun lalu.
Tahun ini, HSE Indonesia mendapat kesempatan membuka stan dalam ekspo.“Kami ditawari panitia untuk membuka stan. Teman-teman ingin mengenalkan K3, akhirnya kami ikut,” ujarnya.
Hendra berharap kerja sama dengan penyelenggara dan pelaku usaha terus tumbuh. Dengan demikian, pesan keselamatan dapat menjangkau lebih banyak orang.
Hendra menegaskan HSE Indonesia tidak semata mengejar keuntungan. Ia ingin edukasi tersebut ikut menumbuhkan budaya keselamatan di Indonesia.“Kalau kami sudah bisa memperkenalkan K3 di masyarakat, kami sudah senang,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak pelaku usaha mengikuti pelatihan. Menurut Hendra, pengetahuan keselamatan harus bergerak dari ruang belajar menuju tempat kerja.
Hendra menyebut pelatihan Ahli K3 Umum berada di kisaran Rp2,5 juta. Sementara itu, pelatihan POP (Pengawas Operasional Pertama) pertambangan berkisar Rp4 juta.
Ia menjelaskan negara menerbitkan sertifikat pelatihan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).









































































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan