
Yogyakarta,suarainfo.com- Festival Sastra Yogyakarta 2026 membuka rangkaian acara dengan rayahan gunungan buku di Graha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan. Minggu (23/8/2026).


Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, membuka kegiatan tersebut. Ia didampingi kurator sastra Fairuz dan Paksi serta perwakilan Dinas UMKM Kota Yogyakarta.
Yetti mengatakan tradisi gunungan buku menjadi bagian dari Festival Sastra Yogyakarta.
Menurutnya, tradisi tersebut membawa pesan penting. Buku bukan sekadar benda. Buku juga menjadi jalan untuk menemukan pengetahuan.
Selain itu, buku membuka cakrawala pembaca. Buku juga mempertemukan pembaca dengan berbagai pikiran dan pengalaman.
“Pengetahuan juga merupakan sumber kehidupan,” kata Yetti.
Karena itu, ia mengajak masyarakat membaca. Ia juga mendorong masyarakat membagikan pengetahuan dan mewariskan budaya membaca kepada generasi berikutnya.
Yogyakarta memiliki perjalanan panjang sebagai ruang pengetahuan dan kebudayaan.
Di sisi lain, kota ini terus mempertemukan banyak unsur. Penulis, sastrawan, seniman, akademisi, penerbit, komunitas, pemerintah, pelaku UMKM, dan masyarakat ikut membangun ekosistem sastra.
Dari pertemuan itu, gagasan terus tumbuh. Selanjutnya, gagasan tersebut menghidupkan kebudayaan.
Sebaliknya, pasar buku mempertemukan buku dengan pembaca. Pada saat yang sama, pasar buku membuka jalan bagi pengetahuan.
Karena itu, masyarakat dapat memilih buku, membawanya pulang, lalu membacanya.
Dari membaca, muncul percakapan. Kemudian, percakapan melahirkan gagasan. Selanjutnya, gagasan dapat mendorong perubahan positif.

Kurator Sastra Fairuz mengatakan penyelenggara melibatkan berbagai pihak dalam Festival Sastra Yogyakarta 2026.Selain itu, panitia menghadirkan pelaku UMKM. Kehadiran UMKM memperluas manfaat festival.
“Festival ini tidak hanya mempresentasikan program. Festival juga membagikan sisi ekonominya melalui keterlibatan UMKM,” ujar Fairuz.
Dengan demikian, sastra tidak hanya bergerak melalui karya. Sastra juga bertemu dengan ekonomi kreatif dan masyarakat.
Fairuz menyebut, antusiasme masyarakat meningkat dari tahun ke tahun. Sebelumnya, festival berlangsung tiga hari. Kemudian, panitia memperpanjang durasi menjadi lima hari.
Di tengah perubahan zaman, sastra dapat membantu masyarakat berpikir kritis. Sastra juga dapat menjadi ruang untuk memahami berbagai persoalan kehidupan.
Penulis : (RM.Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).


































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan