
Bantul-suarainfo.com- Sebuah kitab tua kembali dibuka. Halamannya mungkin telah melewati puluhan tahun, tetapi pengetahuannya belum selesai berbicara.

Di Omah Budaya Kahangnan, Bantul, Ngaji Sorogan Kitab Suluk Makripattuloh menjadi ruang untuk membaca kembali warisan pengetahuan Jawa-Islam.
Kitab karya Kijai Ahmad Kategan, Pengulu Dalem Ingkang Sinuwun Kangdjeng Sultan Agung, itu terbit melalui Soemodidjojo Mahadewa pada 1957.Namun, justru di situlah daya tariknya.
Suluk Makripattuloh menggunakan bahasa Jawa kuno dengan huruf Latin ejaan lama. Karena itu, peserta tidak sekadar membaca. Mereka juga menelusuri makna yang tersimpan di balik setiap pada.
Ibarat membuka peti pusaka, setiap halaman menghadirkan jejak pemikiran dari masa silam.

Hangno Hartono, pendiri sekaligus pegiat Pustaka Widya Yantra dan pemilik Omah Budaya Kahangnan, menggagas kegiatan tersebut sebagai program rutin setiap Kamis.

Sesi pertama berlangsung lebih dari dua jam pada Kamis, 16 September. Peserta berhasil mengkaji lima pada.
Ki Supriyadi memandu pembacaan dan pembahasan. Dengan demikian, teks lama itu tidak berhenti sebagai benda koleksi. Ia kembali menjadi bahan percakapan.
Suluk Makripattuloh terdiri atas tiga bagian berbentuk sekar atau tembang.Dandang Gulo memuat 29 pada. Kemudian Midjil terdiri atas 24 pada. Sementara itu, Sinom memiliki 28 pada.
Jumlah itu membuat perjalanan membaca kitab ini tidak singkat. Peserta perlu kesabaran, ketelitian, dan energi.
Namun, setiap bait membawa pembaca semakin dekat pada dunia pemikiran yang pernah hidup di tengah masyarakat Jawa.
Isi Suluk Makripattuloh menyentuh pertanyaan dasar manusia.Dari mana manusia berasal? Untuk apa hidup? Ke mana perjalanan kehidupan bermuara? Lalu, bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup?
Pertanyaan itu kemudian membawa pembaca kepada pengenalan diri. Dari sana, pembahasan bergerak menuju pemahaman tentang keberadaan Tuhan.Di titik inilah nilai Jawa dan Islam bertemu dalam khazanah sastra religius.
Kini, kitab lama semakin jarang dibaca. Bahasa dan aksaranya juga tidak lagi akrab bagi banyak orang.Karena itu, kegiatan Ngaji Sorogan Kitab Suluk Makripattuloh menjadi lebih dari sekadar forum membaca.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).






















































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan