
Bantul,suarainfo.com- Jaringan Wayang Kontemporer (JWK) putaran kelima mementaskan Wayang Kontemporer Deworuci pada Minggu Legen. Dalang Supriyadi, S.Fil. membawakan kisah pencarian kesejatian diri dalam tradisi Jawa.

Supriyadi menghidupkan perjalanan spiritual Deworuci melalui suluk dan gerak wayang. Selain itu, ia menyampaikan pesan tentang keberanian, kesadaran, dan pencarian jati diri.
Pertunjukan bergerak dinamis. Namun, nilai tradisi tetap kuat. Karena itu, kisah Deworuci terasa dekat dengan penonton masa kini.
JWK memadukan wayang Purwa dengan teknologi modern. Musik mengalun melalui laptop dan aplikasi. Sementara itu, panggung terbuka memberi ruang pandang yang lebih luas. Rancak geber tampil tanpa kain. Dengan demikian, penonton dapat melihat detail wayang dari depan dan belakang.

Menurut Dr. Nur Iswantara, M.Hum., pertunjukan ini memenuhi kaidah wayang kontemporer. Teknologi, musik, dan tata panggung memberi bentuk baru tanpa menghilangkan akar tradisi.

Selanjutnya, M. Yaser Arafat, M.A. membahas spiritualitas Jawa. Ia menjelaskan bahwa nilai spiritual hidup dalam cerita dan naskah pewayangan.
Selain itu, nilai tersebut juga hadir dalam lanskap budaya. Contohnya terlihat di kawasan makam Bayat dan bangunan Masjid Keraton Patok Nagari.
Oleh sebab itu, spiritualitas Jawa tidak hanya tersimpan dalam cerita. Nilai itu juga tumbuh dalam ruang, bangunan, dan kehidupan masyarakat.
Sebelum pementasan, alumni AKNSBY menggelar workshop tatah sungging dasar. Made Singa Murjaya memimpin pelatihan tersebut.
Peserta mempelajari teknik dasar membuat dan menghias wayang. Kemudian, mereka mengenal proses kreatif yang menjaga warisan seni tetap hidup.
Dengan kegiatan ini, JWK menghadirkan tontonan sekaligus pembelajaran. Karena itu, masyarakat dapat menikmati, memahami, dan ikut merawat budaya wayang.
Wayang Kontemporer Deworuci membuktikan bahwa tradisi dapat berkembang. Teknologi memperluas cara penyajian. Namun, nilai budaya tetap menjadi pijakan.
Saksikan dan dukung kegiatan Jaringan Wayang Kontemporer. Mari rawat budaya Jawa melalui pertunjukan, diskusi, dan pembelajaran seni wayang. (Raja).
Editor : (RM.Neutron A/Red).










































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan