
Yogyakarta-suarainfo.com- Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyiapkan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV (TKTB XXV) pada 28 September–1 Oktober 2026.
Sebanyak 17 Taman Budaya dari berbagai daerah akan hadir. Mereka membawa karya, pengetahuan, dan pengalaman pengelolaan budaya.
Menurut Dian, forum ini juga membuka ruang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, strategi, dan praktik baik.
“Kami ingin peserta tidak hanya datang dan melihat tampilan. Mereka perlu membawa pulang sesuatu. Ada yang dipelajari, kemudian ada yang bisa dipraktikkan di daerah masing-masing,” ujar Dian dalam konferensi pers TKTB XXV di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (21/9/2026).
Karena itu, Yogyakarta tidak hanya menampilkan pertunjukan.Tuan rumah juga ingin memperlihatkan proses di balik kegiatan. Peserta dapat mempelajari tata kelola, penyusunan program, keterlibatan seniman, hingga upaya menjaga keberlanjutan kegiatan budaya.
Dian menilai dampak setelah kegiatan menjadi bagian penting.“Temu Karya tidak cukup berhenti ketika acara selesai. Yang lebih penting ialah perubahan yang tumbuh setelahnya. Minimal, ada perubahan cara pandang di antara para pengelola Taman Budaya,” katanya.
Dengan demikian, TKTB XXV diarahkan sebagai ruang belajar bersama. Rangkaian TKTB XXV menghadirkan sejumlah program Taman Budaya Yogyakarta.Antara lain Suloh Sumurup Art Festival, Pojok Kreatif Taman Budaya, Konser Musik Orkestra Taman Budaya Yogyakarta, dan Gelar Karawitan Dang Tak Gong.
Selain itu, rangkaian kegiatan juga menghadirkan aksi membatik bersama dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional pada 2 Oktober.Program tersebut tidak hanya mengajak masyarakat menikmati pertunjukan. Lebih dari itu, kegiatan membuka ruang pembelajaran dan perjumpaan.
Semangat inklusivitas juga hadir dalam Suloh Sumurup Art Festival.Festival tahun keempat ini mengangkat tema “Maneges”. Kurator festival, Budi Irawanto, menyebut 131 seniman penyandang disabilitas ikut berpartisipasi.
Mereka menghadirkan 193 karya. Selain itu, 13 komunitas, sanggar, dan sekolah turut terlibat.Para peserta datang dari 14 provinsi di Indonesia.Dengan demikian, festival tersebut menghadirkan ruang seni yang lebih terbuka. Setiap orang mendapat kesempatan untuk berkarya dan menikmati kebudayaan.
Selanjutnya, Pojok Kreatif Taman Budaya memberi ruang bagi seniman dan budayawan untuk menghasilkan karya serta produk bernilai ekonomi.Program ini sekaligus mendorong keberlanjutan kreativitas.Karena itu, kebudayaan tidak hanya hadir sebagai tontonan. Kebudayaan juga dapat tumbuh sebagai ruang berkarya dan menggerakkan ekonomi kreatif.
Rangkaian TKTB XXV juga menghadirkan Konser Musik Orkestra Taman Budaya Yogyakarta.Oni Krisnerwinto akan mengonduktori pertunjukan tersebut. Pemain musik dan paduan suara anak-anak Taman Budaya Yogyakarta juga terlibat.
Selain itu, sejumlah penyanyi akan tampil, termasuk Ndarboy.Menariknya, pertunjukan membawa lagu-lagu daerah dari berbagai wilayah Indonesia. Dengan begitu, musik menjadi jembatan perjumpaan antardaerah.
Sementara itu, Gelar Karawitan Dang Tak Gong memadukan gamelan pentatonis dengan musik diatonis.Sekitar 10 lagu nasional akan diaransemen menggunakan gamelan Jawa.Perpaduan itu mempertemukan tradisi dengan pendekatan musik kontemporer.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta Purwiati mengatakan pihaknya telah menyiapkan TKTB XXV sejak jauh hari.Sejumlah elemen kegiatan mulai terlihat di kompleks TBY. Persiapan itu terus berjalan untuk menyambut para peserta dari berbagai daerah.
Menurut Purwiati, rangkaian program tersebut dapat menjadi contoh kegiatan yang melibatkan banyak unsur kebudayaan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Selanjutnya, para pimpinan Taman Budaya dari berbagai daerah juga akan mengikuti rangkaian kegiatan.Salah satu agenda menghadirkan narasumber dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Bappenas. Forum tersebut membahas tata kelola dan keberlanjutan Taman Budaya.
Dinas Kebudayaan DIY juga terus mendorong TBY menjadi ruang yang inklusif.Upaya itu antara lain melalui penyediaan ramp dan toilet difabel. Selain itu, TBY terus mengembangkan sarana agar masyarakat dari berbagai kelompok dapat menikmati karya seni.Dengan pendekatan tersebut, ruang budaya tidak hanya menjadi tempat pertunjukan. Ruang budaya juga menjadi tempat bertemu, belajar, dan tumbuh bersama.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).



























































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan