
Yogyakarta-suarainfo.com- Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 menutup festival tahun keempat dengan mengumumkan para pemenang. Festival Report & Awards Announcement berlangsung di ARTOTEL Suites Bianti, Yogyakarta, Minggu. (20/9/2026).

Sebelumnya, KHFF berlangsung pada 17–19 September 2026 di Pasar Terban dan PDIN Yogyakarta. Tahun ini, festival mengangkat Kontekstualisasi sebagai pijakan kuratorial.
KHFF memandang heritage bukan sekadar peninggalan masa lalu. Sebaliknya, warisan budaya terus hidup, berubah, dirawat, dan dibicarakan melalui kehidupan sehari-hari.

Festival membuka rangkaian acara melalui Becak Drive-In Cinema di Pasar Terban. Film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja menjadi film pembuka.
Sekitar 1.000 pengunjung menghadiri program tersebut. Dengan demikian, Pasar Terban berubah menjadi ruang sinema terbuka sekaligus ruang pertemuan warga.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan film dapat memperluas cara publik memahami heritage.“Heritage tidak hadir dalam satu bentuk atau satu perspektif,” kata Yetti.

Antusiasme penonton juga terlihat di PDIN. Pada hari kedua, tujuh program mencatat 321 peserta dari kapasitas 350 orang.Tingkat okupansi mencapai 91,7 persen. Bahkan, beberapa program melampaui kapasitas hingga 124 persen.

Direktur Festival KHFF 2026, Siska Raharja menilai respons tersebut menunjukkan pembahasan film dan heritage semakin mendapat ruang di masyarakat.“Antusiasme ini penting bagi kami karena menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai film dan heritage semakin mendapatkan ruang di tengah publik,” ujar Siska.

Tahun ini, KHFF menerima 184 film submission. Angka tersebut menjadi jumlah tertinggi selama empat tahun penyelenggaraan.Dari jumlah itu, festival menayangkan 27 film, terdiri atas 24 film nasional dan tiga film internasional.


Film-film tersebut berasal dari 21 provinsi di Indonesia. Partisipasi terbesar datang dari DI Yogyakarta dengan 46 film, Jawa Timur 32 film, Jawa Tengah 30 film, dan Jawa Barat 29 film.Selain pemutaran, KHFF menghadirkan diskusi, workshop, dan forum pengetahuan.

Direktur Program KHFF 2026, Suluh Pamuji menegaskan bahwa festival tidak sekadar mencari film yang menampilkan heritage. Sebaliknya, KHFF melihat bagaimana sinema dapat membaca kembali hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, serta perubahan sosial. Karena itu, festival menghadirkan Heritage in Indonesian Cinema, Heritage in Experimental Cinema, dan Panorama.
Program tersebut antara lain Director Talk : Mistik Melampaui Ketakutan, Heritage Workshop: Stop Motion, serta Heritage Talk: Merawat yang Hidup.
KHFF 2026 menggelar tiga kompetisi utama, yakni Mahaditya Awards, Purwaseswa Awards, dan Karyanagri Awards.


Mahaditya Awards Golden: (Niat Ingsun Ngaji )-Sri Rahmawati. Silver: Naijan On Hai Aina-Wisnu Febri Wardana. Jury Special Mention: Hope-Angel Ching.



Karyanagri Awards Golden: Bong- Destian Rendra.Silver: Mateos Anin – Gilang Akbar. Jury Special Mention: Khatib Gantarang Lalang Bata-Zhaddam A. Nurdin.


Purwaseswa Awards Golden Mupusti- Melestarikan dan Merawat, Bukan Menyembah-Ilya Fathimah Taqiyya. Silver: Serada-Septiyani Putri. Jury Special Mention: Tuwuhe Rare (Anak yang Bertumbuh) — Gede Dika Dheva Ariadi.


KHFF 2026 melibatkan 20 tim festival dan 68 volunteer. Festival juga menggandeng lima mitra pemerintah, satu mitra korporasi, dan 12 mitra perhotelan.Kolaborasi tersebut mempertemukan film, kebudayaan, ruang kota, mobilitas, perdagangan, serta ekonomi lokal.

Kolaborasi ini menggabungkan film, kebudayaan, ruang kota, mobilitas, perdagangan, dan ekonomi lokal dalam satu rangkaian kegiatan.

Selain itu, KHFF menghadirkan khffest.id sebagai pusat informasi dan pendaftaran program. Selanjutnya, KHFF akan mengembangkan situs ini sebagai ruang edukasi tentang sinema dan heritage.





Kemudian, KHFF menutup festival lewat Closing & Awarding Night di PDIN Yogyakarta. Pada malam tersebut, Sawung Jabo dan Sirkus Barock turut memeriahkan acara.

Kini, ketika layar kembali gelap, perjalanan cerita KHFF belum berakhir. KHFF terus membawa heritage lebih dekat ke ruang kehidupan masyarakat agar publik dapat melihat, membicarakan, dan merawat warisan tersebut bersama-sama.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima ).





















































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan