
Yogyakarta-suarainfo.com- Kota Baru Heritage Film Festival (KHFF) kembali hadir membawa cerita warisan budaya melalui film. Memasuki penyelenggaraan keempat, festival ini membuka ruang pertemuan antara film, sejarah, budaya, komunitas, dan masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta,Yetti Martanti, menilai film menjadi media yang dekat dan mudah dipahami berbagai kalangan. Karena itu, KHFF 2026 membawa isu heritage lebih dekat kepada masyarakat.“Melalui media film, heritage bisa dipahami, dimengerti, dan diakses dengan lebih baik,” ujarnya. di PDIN Rabu,(16/9/2026).
Menurutnya, evaluasi penyelenggaraan sebelumnya menjadi pijakan untuk memperbaiki program tahun ini. Penyelenggara kemudian memperluas akses melalui program yang menyasar pelajar, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum.
Langkah itu sekaligus menghidupkan kawasan cagar budaya Kota Baru. Kawasan tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan sejarah dengan aktivitas kreatif masa kini.
Film pun tidak sekadar hadir sebagai tontonan. Lebih dari itu, film menjadi jembatan untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi baru.

Direktur KHFF, Sisca, mengatakan festival tahun ini memasuki penyelenggaraan keempat. KHFF pertama berlangsung pada 2023 dan terus berkembang sebagai festival film heritage.
Salah satu program yang kembali hadir ialah driving cinema menggunakan becak. Puluhan becak akan menjadi ruang menonton layaknya bioskop terbuka.
Konsep tersebut membawa pengalaman berbeda. Penonton tidak perlu masuk ke gedung bioskop. Mereka justru menikmati film dalam suasana ruang publik.
Program pembukaan juga menghadirkan film Para Perasu karya sutradara Bergas Banu Teja.Rangkaian KHFF berlangsung di Gedung PDIN serta kawasan Pasar Terban. Programnya meliputi pemutaran film, diskusi, workshop, dan kegiatan kreatif lainnya.
Seluruh rangkaian festival terbuka secara gratis. Masyarakat dapat memperoleh informasi dan melakukan registrasi melalui situs resmi KHFF serta Instagram @kotabaruheritagefilmfestival.
Selain itu, penyelenggara tetap membuka kesempatan bagi penonton yang ingin datang secara langsung melalui registrasi on the spot sesuai ketersediaan tempat.




Tradisi tumpeng turut hadir sebagai bagian dari syukuran festival.Dalam tradisi Jawa, tumpeng memiliki bentuk menyerupai gunungan. Cara mengambilnya pun memiliki filosofi tersendiri. Tumpeng tidak hanya hadir dalam acara syukuran, tetapi juga memiliki beragam bentuk dan fungsi dalam berbagai kegiatan masyarakat.




Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa heritage tidak berhenti pada bangunan bersejarah. Warisan budaya juga hidup melalui tradisi, kesenian, cerita, kebiasaan, dan pengetahuan masyarakat.
KHFF juga membuka ruang bagi film maker dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari mancanegara. Sebab, warisan budaya bukan hanya milik satu daerah.


Festival menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai cerita heritage dari banyak tempat. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat keberagaman budaya melalui bahasa visual yang mudah diterima.
Pada penutupan, KHFF menghadirkan Sawung Jabo bersama Sirkus Barock. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya merawat ingatan budaya lintas generasi.
Kini, heritage bukan sekadar cerita masa lalu. Melalui film, warisan itu kembali bergerak, berbicara, dan menemukan penontonnya.
Mari datang, menonton, berdiskusi, dan merasakan heritage Kota Yogyakarta melalui Kota Baru Heritage Film Festival. Gratis, terbuka, dan dekat dengan masyarakat.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima ).

















































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan