
Bantul-suarainfo.com- Festival Seni Ornamen 2026 mengajak publik memahami ornamen sebagai bahasa budaya. Akhmad Nizam menegaskan, ornamen tidak hanya menghias, tetapi juga menyimpan cerita dan makna.

“Dengan ornamen kita bisa bercerita banyak. Ornamen tidak hanya menghias, tetapi juga bercerita,” ujar Akhmad Nizam dalam Wicara Ornamen.

Nizam menjelaskan, ornamen memiliki perjalanan panjang. Karena itu, masyarakat perlu membaca bentuk sekaligus maknanya.

Selain menghias ruang, ornamen menyampaikan gagasan. Bahkan, bentuknya dapat merekam perjalanan budaya dari satu zaman ke zaman berikutnya.
Salah satu motif yang dibahas ialah sulur gelung teratai padma.Motif ini hadir dalam perjalanan seni dan budaya di Indonesia. Bentuk sulurnya bergerak ke kiri dan kanan secara berulang.
Dalam pemaknaan Hindu yang dibahas di forum, gerak ornamen mencerminkan proses penciptaan dan perkembangan alam semesta. Siklus tersebut juga menggambarkan perjalanan manusia dari lahir, hidup, menua, hingga meninggal.
Seiring perubahan zaman, ornamen Nusantara terus berkembang. Pengaruh India, Hindu, Buddha, hingga masa peralihan Islam ikut membentuk ragam hias Indonesia. Meski begitu, masyarakat tidak selalu meninggalkan unsur lama. Mereka justru memberi makna baru sesuai konteks budaya pada setiap zaman.

Nizam mengajak generasi muda mengenali makna ornamen sebelum menciptakan bentuk baru. Menurutnya, pemahaman terhadap esensi motif lama dapat menjadi pijakan untuk menghasilkan karya yang lebih kreatif tanpa kehilangan identitas budaya.

Perubahan zaman juga membuat ornamen tidak harus tampil seperti bentuk masa lalu. Namun, setiap karya baru tetap perlu memahami akar budaya yang melahirkannya.
“Untuk bisa melahirkan sesuatu yang baru, tetapi masih memiliki identitas, kita kembali ke akar,” ujar Nizam.
Wicara Ornamen menjadi bagian dari Festival Seni Ornamen 2026 dengan tema “Berguru pada Ornamen.” Sesi ini berakhir dengan foto bersama narasumber, pemantik, panitia, dan peserta.
Festival tersebut mengajak masyarakat memandang ornamen secara lebih luas: mengenali bentuk, memahami makna, menjaga akar budaya, lalu mengembangkan karya yang relevan dengan zaman.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).














































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan