
Bantul-suarainfo.com- Festival Seni Ornamen “Berguru pada Ornamen” resmi dibuka di Equalitera Art Space, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026) pukul 15.30 WIB.


Festival ini mengajak publik melihat ornamen dari sudut pandang berbeda. Bukan sekadar hiasan, ornamen menyimpan simbol, filosofi, identitas, dan jejak budaya.


Puluhan karya dari berbagai daerah Indonesia hadir dalam festival tersebut. Seniman, pelaku kriya, akademisi, komunitas, perempuan, anak muda, hingga penyandang disabilitas ikut mengambil bagian.

Ketua Askrina Agus Sriyono menilai ornamen telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Ia menyebut busana, tato, interior, peralatan rumah tangga, hingga arsitektur dapat membawa unsur ornamen.
“Dari ujung kaki sampai ujung rambut, kita menempatkan ornamen sesuai dengan fungsinya,” ujar Agus.


Menurutnya, ornamen juga memiliki nilai ekonomi. Pelaku kriya mengolah ornamen menjadi produk yang memiliki fungsi sekaligus nilai jual.

Karena itu, Agus mendorong masyarakat untuk melihat ornamen sebagai bagian penting dari perkembangan industri kreatif, dan penyelenggara untuk menggelar festival berikutnya. Menurutnya, ornamen memiliki ruang yang luas untuk berkembang.

Kurator Festival Seni Ornamen Rohmat mengatakan tema “Berguru pada Ornamen” lahir dari kegelisahan melihat jejak simbol dan narasi ornamen yang mulai hilang.Festival ini mencoba menyambungkan kembali jejak tersebut dengan kreativitas generasi sekarang.“Ornamen tidak menjadi pelengkap penderita. Ia bisa berbicara sendiri dan menjadi narasi yang kuat,” kata Rohmat.


Ia melihat ornamen Nusantara memiliki karakter kuat. Motif dan simbolnya kerap merekam hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, serta Tuhan.Karena itu, generasi sekarang dapat memberi tafsir baru terhadap ornamen tanpa memutus hubungan dengan akar budayanya.

Rohmat menegaskan, keterlibatan mereka bukan sekadar bentuk belas kasihan.Penyelenggara menempatkan karya berdasarkan kualitas dan gagasan.“Pertarungannya adalah pertarungan karya, bukan pertarungan status,” tegasnya.Pendekatan ini membuat festival tidak hanya berbicara tentang ornamen. Festival juga membuka ruang perjumpaan yang lebih inklusif.

Rosanto Bima Pratama, S.Sn.Perancang Program Festival Seni Ornamen 2026, Berguru Pada Ornamen, mengatakan sekitar 80 karya masuk melalui open call. Selain itu, penyelenggara mengundang delapan seniman untuk ikut berpameran.Karya tersebut datang dari sejumlah wilayah Indonesia. Papua, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Bali, Yogyakarta, dan sejumlah daerah di Jawa ikut terwakili.
Menariknya, peserta memiliki rentang usia yang luas. Peserta termuda berusia sekitar 11 tahun. Sementara itu, peserta tertua berusia sekitar 70 tahun.“Kami ingin mengenalkan kembali ornamen kepada masyarakat,” ujar Bimo.

Bimo mengatakan gagasan festival tumbuh dari dunia kriya.Dalam pendidikan kriya, mahasiswa mengenal ornamen melalui pembelajaran ragam hias Nusantara.Namun, penyelenggara ingin membawa ornamen keluar dari ruang akademik.

Karena itu, Festival Seni Ornamen membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat, memahami, dan mengembangkan ornamen.



Festival ini kemudian mempertemukan seni, budaya, pendidikan, kreativitas, dan industri. Ornamen Nusantara memiliki bentuk yang beragam. Namun, bentuk bukan satu-satunya hal yang penting.Di balik motif, terdapat simbol dan makna.

Karena itu, festival mengajak pengunjung tidak hanya melihat karya. Pengunjung juga dapat membaca cerita dan gagasan di baliknya.Dengan demikian, ornamen dapat terus hidup melalui tafsir baru.
Rangkaian kegiatan meliputi pameran, lokakarya, dan wicara.Pada 14 September, agenda wicara membahas filosofi dan asal-usul ornamen.Kemudian, pada 15 September, kegiatan membahas penerapan ornamen dalam konteks kekinian.Penyelenggara berharap festival ini terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.


Ornamen hadir dalam kehidupan sehari-hari.Ia menghiasi tubuh, pakaian, benda, ruang, hingga bangunan.Namun, ornamen tidak berhenti pada keindahan visual.
Di dalamnya terdapat jejak budaya, simbol, gagasan, dan cerita.Melalui Festival Seni Ornamen “Berguru pada Ornamen”, publik diajak melihat kembali kekayaan tersebut.
Datang, lihat karyanya, baca simbolnya, dan temukan kembali cerita ornamen Nusantara.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).
Foto : (Raja).










































































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan