
Yogyakarta -suarainfo.com- Arus digital bergerak cepat. Namun, Karang Taruna Kota Yogyakarta mengingatkan generasi muda agar tetap berpijak pada sejarah dan budaya daerah.
Pesan itu mengemuka dalam diskusi Sejarah Keistimewaan Yogyakarta di Ndalem Poenakawan, Senin (31/8/2026). Lebih dari 100 peserta hadir. Mereka terdiri atas anggota Karang Taruna, mahasiswa, masyarakat umum, hingga purnabakti.

Wakil Ketua VI Bidang Seni Budaya dan Keistimewaan Karang Taruna Kota Yogyakarta, RM Drasthya Wironegoro, menilai pemuda perlu memahami sejarah Yogyakarta.
Menurutnya, budaya tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu. Sebaliknya, budaya menjadi pijakan untuk membentuk karakter masyarakat di tengah perubahan zaman.
“Budaya harus tetap dilestarikan, tetapi juga mengikuti perkembangan zaman. Yang penting generasi muda terus belajar dan memahami sejarah daerah tempat mereka tinggal,” ujar Drasthya.
Karena itu, pelestarian budaya membutuhkan cara baru. Nilai tradisi perlu terus dikenalkan agar tetap hidup dan mudah dipahami generasi penerus.
Pakar Keistimewaan DIY dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr. Harto Juwono, M.Hum., turut menjelaskan perjalanan sejarah Yogyakarta.
Ia menyampaikan bahwa kedudukan DIY memiliki karakter berbeda dari daerah lain. Keistimewaan tersebut berkaitan erat dengan perjalanan Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman dalam mendukung Republik Indonesia.
Yogyakarta juga pernah menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia pada 1946–1950. Pada masa itu, Yogyakarta memainkan peran penting ketika republik menghadapi tekanan militer dan politik Belanda.
“Keistimewaan DIY tidak dapat dilepaskan dari kontribusi Yogyakarta terhadap berdirinya dan bertahannya Republik Indonesia,” kata Harto.

Ketua Karang Taruna Kota Yogyakarta, Yuliantono, mengatakan diskusi tersebut menjadi bagian dari penguatan literasi sejarah dan budaya pemuda.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal Keistimewaan DIY melalui seremoni. Lebih jauh, mereka perlu memahami sejarahnya dan menerjemahkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Generasi muda perlu memahami mengapa Yogyakarta memiliki status istimewa dan bagaimana sejarah itu terbentuk. Dari situ akan tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaganya,” ujar Yuliantono.
Penulis : (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima).


















































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan