
Yogyakarta-suarainfo.com-Sejarah seni rupa Indonesia kembali dibaca dari sudut pandang yang lebih luas.
Diskusi publik “Dari Gua ke Galeri: Membaca Ulang Sejarah Seni Rupa Indonesia” berlangsung di Gedung F Lantai 2, Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026).
Museum dan Cagar Budaya Unit Museum Benteng Vredeburg bersama Galeri Nasional Indonesia menggelar diskusi tersebut pukul 15.00–17.00 WIB.
Sejarah seni rupa Indonesia memiliki perjalanan panjang.Jejaknya tumbuh dari tradisi visual prasejarah. Kemudian, perjalanan itu bergerak melalui seni tradisi, seni modern, hingga seni kontemporer.
Namun, berbagai periode tersebut belum selalu terbaca sebagai satu rangkaian.Karena itu, diskusi Dari Gua ke Galeri membuka kembali ruang pembacaan tersebut.
Aminudin TH Siregar, Ketua Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, hadir sebagai narasumber.
Selain itu, Prof. Dr. Anggraeni, M.A., arkeolog Universitas Gadjah Mada, turut memberikan pandangan.
Agung Hujatnikajennong, Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, memandu diskusi sebagai moderator.
Melalui pertemuan itu, seni rupa bertemu arkeologi. Sejarah bertemu kuratorial. Selanjutnya, berbagai perspektif tersebut memperkaya cara publik memahami perjalanan seni rupa Indonesia.
Diskusi ini juga berkaitan dengan pameran “Dari Sudjojono ke Murniasih: Sepilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia”.
Pameran tersebut menghadirkan karya-karya koleksi negara. Karya itu merekam perubahan cara seniman melihat manusia, tubuh, identitas, kebebasan, dan pengalaman sosial.
Dengan demikian, koleksi negara tidak hanya menjadi benda yang tersimpan. Lebih dari itu, koleksi tersebut dapat menjadi pintu untuk membaca perjalanan seni rupa Indonesia.
Peserta diskusi datang dari berbagai kalangan.Kurator, guru, akademisi seni rupa, seniman, mahasiswa, dan masyarakat umum ikut mengikuti forum tersebut.
Kegiatan berlangsung secara luring melalui panel diskusi partisipatif.Di sana, peserta membicarakan sejumlah pertanyaan penting.Bagaimana sejarah seni rupa Indonesia selama ini terbentuk?Lalu, bagaimana posisi lukisan gua prasejarah dalam perjalanan seni rupa Indonesia?Selanjutnya, bagaimana koleksi Galeri Nasional Indonesia merekam perubahan praktik artistik dari seni modern menuju seni kontemporer?
Diskusi Dari Gua ke Galeri mendorong pembacaan sejarah yang lebih inklusif.Selain itu, forum tersebut menguatkan pentingnya kerja lintas disiplin. Seni, arkeologi, sejarah, dan kuratorial dapat berjalan bersama.
Melalui dialog itu, penyelenggara juga mendorong hubungan antara museum, institusi seni, perguruan tinggi, komunitas, serta lembaga pelestarian cagar budaya.
Pada akhirnya, sejarah seni rupa bukan sekadar catatan masa lalu.Ia adalah jejak yang terus bergerak.
Dari dinding gua hingga ruang galeri, setiap karya menyimpan cerita. Setiap jejak mengajak kita melihat kembali manusia, zaman, dan Indonesia.
Mari membaca kembali sejarah seni rupa Indonesia. Sebab, masa lalu selalu memiliki cara untuk berbicara kepada masa kini.


















































































































































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan