
Yogyakarta,suarainfo.com- Koko menegaskan pentingnya menghapus stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) dalam pertemuan Yayasan Vesta di Grobog Resto, Yogyakarta. Ia mengajak pemerintah, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, dan masyarakat umum untuk membangun pemahaman yang lebih luas serta menciptakan layanan yang bebas diskriminasi.
Menurutnya, stigma HIV di Yogyakarta masih menjadi hambatan utama bagi penyintas dalam mengakses layanan kesehatan dan kehidupan sosial.
Selain itu, banyak ODHIV masih menghadapi perlakuan berbeda di fasilitas kesehatan. Mereka juga kerap mengalami pengucilan, stereotip negatif, hingga hambatan dalam pekerjaan dan administrasi kependudukan.“Kita harus memahamkan masyarakat secara menyeluruh agar tidak ada diskriminasi terhadap siapa pun,” ujar Koko.

Dalam pemaparan hasil pendampingan kasus, ditemukan beberapa persoalan yang paling sering dialami ODHIV, yaitu Sebagian pasien masih menerima perlakuan yang tidak setara saat mengakses layanan kesehatan.
Banyak penyintas khawatir mengungkapkan status HIV kepada keluarga maupun pasangan. Stigma sosial masih memengaruhi kesempatan kerja bagi ODHIV. Kelompok rentan masih menghadapi berbagai hambatan administrasi.
Label negatif dan stereotip masih sering muncul di lingkungan masyarakat.Sebagian orang enggan menjalani tes karena khawatir mendapat cap buruk dari lingkungan sekitar.
Koko menjelaskan bahwa stigma tidak selalu muncul karena kebencian. Sebaliknya, stigma sering muncul akibat ketakutan, kurangnya informasi, dan kesalahpahaman mengenai penularan HIV.
Karena itu, edukasi publik harus terus diperkuat agar masyarakat memahami fakta ilmiah serta menghormati hak setiap individu.
Dalam forum tersebut, peserta juga menyoroti pentingnya kebijakan yang berpihak kepada penyintas HIV. Kebijakan yang tidak memahami pengalaman ODHIV secara langsung berpotensi memperkuat diskriminasi.
Oleh sebab itu, Koko mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk melibatkan komunitas penyintas dalam penyusunan kebijakan dan program layanan publik.
Ia meminta organisasi perangkat daerah (OPD), dinas kesehatan, dinas sosial, organisasi profesi, serta masyarakat untuk memperkuat kolaborasi.
Dengan demikian, akses layanan kesehatan dapat semakin mudah, aman, dan nyaman bagi seluruh warga tanpa memandang status kesehatan mereka.
Koko berharap upaya pencegahan, pengobatan, dan edukasi dapat menekan kasus baru HIV hingga tahun 2030. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung pada layanan medis.
Sebaliknya, keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam menghapus stigma dan diskriminasi. Pertemuan Yayasan Vesta menghasilkan pesan penting bahwa penanganan HIV tidak cukup dilakukan melalui pengobatan semata. Edukasi, empati, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia harus berjalan beriringan.
“Virus dapat dikendalikan dengan pengobatan, tetapi stigma hanya dapat disembuhkan oleh kemanusiaan,” tegas Koko.(Ed).
Editor : (RM.Neutron Aprima /Red).

















































































































































































































































































































Tinggalkan Balasan