
Yogyakarta,suarainfo.com- Kemuning Kembar untuk pertama kalinya menggelar Sarasehan Nasional 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Sabtu–Minggu (2–3/5/2026 ). Kegiatan ini langsung menghadirkan ruang dialog lintas bidang yang menyatukan budaya, pendidikan, pengasuhan, dan kesehatan mental.
Sarasehan ini tidak sekadar diskusi. Sebaliknya, forum ini menjadi ruang belajar bersama untuk meninjau ulang peran budaya dalam tumbuh kembang anak. Selain itu, peserta diajak memahami hubungan erat antara pendidikan, kesehatan mental, dan pembentukan karakter di tengah tantangan zaman.
Lebih lanjut, budaya Nusantara terbukti menyimpan sistem pendidikan yang utuh. Nilai seperti asah, asih, asuh, serta andhap asor mampu membentuk empati dan kestabilan emosi anak. Oleh karena itu, pendekatan ini dinilai efektif untuk membangun resiliensi berbasis budaya.

Kepala Dinas Kundha Kabudayan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan bahwa momentum Hari Pendidikan Nasional memperkuat urgensi pendidikan karakter. Ia menilai, pendekatan budaya mampu diterjemahkan menjadi langkah konkret dalam pengasuhan anak dan penguatan keluarga.
Selanjutnya, pemerintah tidak bekerja sendiri. Dinas Kebudayaan telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk merancang program berbasis nilai budaya. Bahkan, pendekatan dilakukan melalui metode kreatif, bukan sekadar sosialisasi formal.
Menariknya, konsep sinau bareng menjadi strategi utama. Anak-anak diajak belajar melalui praktik langsung seperti permainan tradisional. Tidak hanya itu, setiap aktivitas juga diberi narasi nilai kehidupan, sehingga pembelajaran terasa hidup dan bermakna.
Di sisi lain, Dian menekankan bahwa anak bukan miniatur orang dewasa. Karena itu, metode pendidikan harus sederhana, aplikatif, dan sesuai dunia anak. Dengan demikian, anak lebih mudah memahami dan menerapkan nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya Jawa telah lama menghadirkan metode belajar yang halus. Wayang, tembang, dan cerita rakyat menjadi media efektif tanpa kesan menggurui. Anak belajar melalui pengalaman, seeing is believing.
Namun demikian, lingkungan tetap menjadi faktor penentu. Pola asuh yang kurang tepat dapat memengaruhi kepercayaan diri anak. Bahkan, isu kesehatan mental kini semakin meningkat dan membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima/Red).










































































































































































































Tinggalkan Balasan