
Yogyakarta,suarainfo.com- Perayaan Hari Seni Sedunia di Studio Kalahan milik Heri Dono berubah menjadi ledakan ekspresi. Rabu, (15/4/2026).Para seniman lintas disiplin merayakan kebebasan dalam tajuk “Sehari Boleh Gila”.
Setiap 15 April, dunia memperingati Hari Seni Sedunia. Namun di Yogyakarta, perayaan ini terasa lebih hidup. Para perupa, musisi, desainer, hingga teaterawan langsung turun berkarya.



Sejak pagi hingga malam, ruang Studio Kalahan dipenuhi aksi. Lukisan, instalasi, dan performance hadir silih berganti. Semua bergerak cepat, spontan, dan tanpa batas.



Konsep Spiritual Anarchy menjadi napas utama acara ini. Para seniman menolak batasan. Mereka memilih menjadi otoritas atas makna dan kebenaran pribadi.

Selain itu, konsep ini mendorong keberanian. Seniman bebas mengekspresikan kegelisahan, intuisi, hingga kegembiraan tanpa sensor. Akibatnya, karya terasa jujur, liar, dan penuh energi. Akibatnya, karya terasa jujur, liar, dan penuh energi.

Dalam konteks ini, “gila” bukan sekadar istilah. Sebaliknya, kata ini menjadi simbol kebebasan total.
“Gila adalah koneksi kuat dalam seni,” menjadi semangat yang terasa di setiap sudut ruang.Karena itu, seniman tidak lagi terjebak estetika normatif. Mereka bergerak lebih berani, lebih jujur, dan lebih manusiawi.
Prof. Dwi Marianto menjelaskan bahwa gagasan ini lahir sejak 2017 di Pascasarjana ISI Yogyakarta.Saat itu, mahasiswa diajak melepas tekanan akademik. Mereka tampil dengan kostum unik, lucu, bahkan “gila”.Kini, konsep tersebut berkembang. Tahun 2026, Studio Kalahan menjadi panggung baru yang lebih luas dan bebas.

Diskusi hangat juga berlangsung. Dwi Marianto, Dr. Oei Hong Djien, dan Heri Dono membahas peran seni di tengah krisis global.
Mereka menyoroti isu perang, hegemoni kekuasaan, dan kecemasan dunia.
Namun demikian, seni tetap menjadi jalan pulang. Seni mengajak manusia kembali “merasakan”.
Dr. Oei Hong Djien tidak hanya berbicara. Ia bermain biola. Ia juga berjoget bersama seniman lain.
Bahkan, momen unik terjadi saat perform memasak sambal hadir di tengah keramaian.
“Pedas, tapi enak,” komentarnya spontan.
Suasana terasa cair. Bunyi wajan, musik alternatif, hingga pembacaan puisi teatrikal bercampur.
Selain itu, ada praktik membatik, pijat tuna netra, dan instalasi interaktif.
Semua berpadu menjadi pengalaman multisensori yang kuat.
Heri Dono juga menyampaikan kritik. Ia menyoroti minimnya narasi serius dalam seni Yogyakarta.Menurutnya, seni tidak boleh berhenti sebagai rutinitas. Sebaliknya, seni harus kembali menjadi ruang gagasan.
Munir Kahar menilai perilaku manusia sering mempertahankan “error eksistensi”.Karena itu, kegilaan justru menjadi bentuk kejujuran. Seni pun hadir sebagai refleksi realitas manusia yang kompleks.
Puluhan seniman turut berpartisipasi. Di antaranya:
Dr. Oei Hong Djien, Prof. Dwi Marianto, Heri Dono, Nasirun, Arahmaiani, Munir Kahar, hingga banyak nama lintas generasi.
Kehadiran mereka memperkuat energi kolektif yang luar biasa.
Melalui “Sehari Boleh Gila”, seniman mengajak publik untuk berani berekspresi.Tidak perlu sempurna. Tidak perlu normal.Yang terpenting, jujur dan merdeka.
Akhirnya, perayaan ini bukan sekadar acara. Ini adalah gerakan.Gerakan untuk kembali merasakan, berpikir, dan mencipta tanpa batas. (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima /Red).
Sumber : (Liputan peristiwa dan pernyataan langsung dari Prof. Dwi Marianto, Dr. Oei Hong Djien, dan Heri Dono dalam acara “Sehari Boleh Gila”, Yogyakarta, April 2026).
Sumber : (Mahmud Elqadrian).






































































































































































Tinggalkan Balasan