
Bantul-suarainfo.com-Bantul bergerak cepat. Para ahli budaya menggelar Forum Group Discussion (FGD) untuk memperkuat kajian revitalisasi wuwungan Jawa, di Semanak Warung dan Kopi Bantul .Kegiatan ini sekaligus mendorong pelestarian seni hias arsitektur tradisional.
Wuwungan bukan hanya ornamen atap. Sebaliknya, wuwungan menyimpan makna filosofis mendalam. Selain itu, wuwungan mencerminkan jati diri masyarakat Jawa.
Karena itu, para peneliti mengkaji bentuk, fungsi, dan maknanya secara ilmiah. Dengan demikian, nilai budaya tetap hidup di tengah modernisasi.
FGD ini menghadirkan banyak pakar lintas disiplin. Mereka aktif memberi masukan, kritik, dan validasi ilmiah. Selanjutnya, hasil diskusi akan menyempurnakan buku kajian wuwungan.
Buku tersebut berjudul:“Wuwungan Warisan Estetik Arsitektur Vernakular Jawa”
Program ini didukung Kementerian Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP.
FGD mendorong kolaborasi hexahelix. Artinya, akademisi, pemerintah, pelaku usaha, komunitas, media, dan publik bersinergi.
Oleh sebab itu, pelestarian budaya tidak berjalan sendiri. Sebaliknya, semua pihak bergerak bersama.
Wuwungan tidak berhenti sebagai warisan. Lebih jauh, wuwungan dapat menjadi inspirasi industri kreatif.
Selain itu, nilai-nilainya memperkuat pendidikan karakter. Bahkan, generasi muda dapat mengenal identitas budaya sejak dini.
Di Bantul, diskusi berlangsung hangat. Para pakar berbicara, sementara peserta menyimak dengan antusias. Di sisi lain, semangat pelestarian terasa kuat.
Seolah-olah, wuwungan tidak hanya dibahas. Namun, wuwungan “dihidupkan kembali”.
Mari kita jaga budaya lokal. Jangan biarkan wuwungan hilang ditelan zaman. Sebaliknya, kita rawat dan kembangkan bersama.
Karena budaya bukan masa lalu. Budaya adalah masa depan.
Dukung pelestarian budaya Indonesia!Ikuti program kajian, workshop, dan diskusi budaya di Bantul. Bersama, kita hidupkan kembali warisan leluhur.
FGD menghadirkan tokoh penting, antara lain:Prof. Timbul Haryono, Prof. Djunaedi, Dr. Supriaswoto, Dr. Akmad Nizam, Dr. Noor Sudiyati, hingga praktisi budaya dan pemerintah Bantul. (Raja).
Editor (RM.Neutron Aprima/Red).































































































































































Tinggalkan Balasan