
Yogyakarta,suarainfo.com – Kirab Budaya Ambengan Hageng Nawu Sendang Seliran Mataram Kuthagede digelar di kompleks Makam Raja-Raja Kotagede, Minggu (10/5/2026). Tradisi budaya ini kembali menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.



Ratusan warga dan wisatawan memadati kawasan budaya tersebut sejak pagi. Mereka menyaksikan prosesi adat yang sarat nilai sejarah dan spiritual.

Pangarsa Tepas Kotagede, KRT Hastononegoro, menegaskan masyarakat terus menjaga tradisi resik sendang sebagai warisan leluhur Mataram. Menurutnya, tradisi tersebut terus hidup karena warga masih menghormati nilai luhur peninggalan leluhur.

“Tradisi ini menjadi kegiatan adat turun-temurun yang sarat makna spiritual dan budaya,” ujarnya. Selain itu, warga tetap menjalankan ritual resik kagungan di kawasan sendang yang berada di lingkungan makam bersejarah Kotagede.



Kompleks makam peninggalan Panembahan Senopati hingga kini masih menjadi pusat ziarah masyarakat. Warga juga rutin menjalankan tradisi bulan suro sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.


Namun demikian, arus modernisasi mulai memengaruhi sebagian generasi muda. Meski begitu, masyarakat Kotagede tetap berupaya menjaga tradisi budaya Jawa.




Kirab budaya Kotagede tidak hanya melestarikan adat. Tradisi ini juga memperkuat wisata sejarah di Yogyakarta. Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung prosesi budaya yang berlangsung setiap Bulan Sura.
Tradisi budaya tersebut juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Saat acara berlangsung, banyak warga membuka lapak makanan, minuman, hingga suvenir khas Kotagede.Karena itu, kegiatan adat mampu membantu meningkatkan penghasilan pedagang lokal.






Pangersa bersama Abdi dalem melakukan pengurasan sendang Kakung (Kraton Yogyakarta), dan Putri (Kraton Surakarta). Pangersa bersama Abdi dalem melakukan pengurasan sendang Kakung (Kraton Yogyakarta), dan Putri (Kraton Surakarta).
Setelah proses selesai, warga diperbolehkan mengambil air sendang untuk kebutuhan tertentu. Meski demikian, warga tetap dianjurkan memasak air terlebih dahulu sebelum digunakan untuk konsumsi.
Dengan demikian, prosesi dilanjutkan acara kembul bujono. (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima /Red).
































































































































































































































Tinggalkan Balasan