
Bantul, suarainfo.com- Butet Kertaredjasa resmi membuka Pameran Pijar Selaras Bumi Bantul di Pendopo Bagong, Kasihan. (1/5/2026). Suasana terasa hidup. Para seniman, mahasiswa, dan tamu undangan hadir dengan antusias. Selain itu, pameran ini langsung menghidupkan memori panjang perjalanan musik etnik modern.



Butet menjelaskan konsep “dua warna”. Konsep ini menggabungkan unsur etnik dan elektrik dalam satu harmoni.Namun demikian, pada awalnya konsep ini diragukan. Meski begitu, para musisi tetap melangkah maju.


Selanjutnya, kolaborasi seperti Aminotoposin muncul sebagai terobosan. Bahkan, pendekatan ini kemudian dikenal luas.
Awalnya, para musisi sering berkumpul di warung sederhana. Dari obrolan santai, ide besar pun muncul.Kemudian, mereka sepakat membentuk grup musik baru.

Butet mengusulkan nama Koetnika. Kata ini menggabungkan kualitas dan etnik. Hasilnya terdengar kuat dan unik.

Koetnika tidak hanya fokus pada Jawa. Sebaliknya, mereka mengeksplorasi Bali, Banyuwangi, dan daerah lain.Selain itu, eksplorasi ini membuka kemungkinan baru dalam musik etnik.
Menariknya, Koetnika bermain tanpa partitur. Mereka menggunakan intuisi atau “NGEN”.Akibatnya, penampilan mereka sering membuat teknisi luar negeri terkejut.
Saat tampil di Eropa, sistem musik mereka dianggap kompleks. Namun demikian, harmoni tetap terjaga.Peran almarhum Gendel sangat vital. Ia mampu menyatukan suara etnik dan elektrik dengan seimbang.
Butet menegaskan bahwa arsip adalah sumber belajar. Ia sendiri belajar dari arsip sejak kecil. Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda untuk terus membaca dan belajar dari berbagai sumber.



Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir. Sebaliknya, pengunjung diajak memahami proses.Selain itu, ada kolaborasi dengan Malaysia. Ada pula karya tribute untuk seniman terdahulu.


Mahasiswa seperti Fenny menjelaskan karya kepada pengunjung. Interaksi ini membuat pameran lebih hidup. Pengunjung juga melihat alat musik unik. serta perpaduan tradisional dan modern terlihat jelas.

Butet mengingatkan pentingnya belajar sepanjang hayat.Karena itu, generasi muda harus berani berkarya dan menjaga budaya.
Pameran ini menunjukkan bahwa seni tidak pernah mati.Akhirnya, semangat Koetnika tetap menyala dan menginspirasi banyak orang. (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima/Red).










































































































































































































Tinggalkan Balasan