
Klaten-(Jateng)-suarainfo.com- Dari dapur sederhana, Darmawan atau Wawan menyalakan harapan. Karena itu, Warung Mbok Ijo lahir bukan dari modal besar, melainkan dari kesadaran hidup cukup, rasa sehat, dan kesabaran.

Awalnya, Wawan hanya berbincang dengan istri. Namun kemudian, ide itu tumbuh. Selanjutnya, mereka berani mencoba. Pertama, mereka memilih ayam. Lalu, mereka menetapkan ayam lengkuas. Sebab, lengkuas mudah didapat, sehat, awet, dan tidak mudah tengik. Selain itu, teksturnya ringan dan menenangkan tubuh. Karena itu, menu ini menjadi identitas rasa sekaligus filosofi rasa .
Kemudian, harga dijaga tetap terjangkau. Mulai Rp11 ribuan, Warung Mbok Ijo menolak iklan mahal. Sebaliknya, mereka menyalurkan nilai ke porsi dan rasa. Selanjutnya, inovasi hadir lewat nori dan daun pandan. Hasilnya, nasi harum lembut tanpa berlebihan.


Sementara itu, lokasi di Pertigaan Besole menuntut kesabaran. Sebab, kawasan ini telah hidup puluhan tahun dengan legenda kuliner. Namun demikian, Wawan memilih jalan pelan. Ia mengandalkan rasa, konsistensi, dan ketulusan.

Kini, pelanggan datang perlahan. Bahkan, pesanan rutin dari pabrik menjadi penopang. Selain ayam lengkuas, nasi kulit dan nasi belut juga diminati. Ke depan, Wawan berharap akses modal terbuka. Dengan begitu, Warung Mbok Ijo bisa tumbuh sehat, berkelanjutan, dan menyejahterakan. (Raja).
Editor : (R.M.Neutron Aprima/Red).
























































































Tinggalkan Balasan