
Sleman,suarainfo.com – Sleman kembali memanggil kesadaran kolektif.
Keraton Yogyakarta segera menggelar Tradisi Labuhan Merapi 2026 pada 19–20 Januari 2026.
Menariknya, tahun ini prosesi terbuka untuk umum.
Oleh karena itu, masyarakat dapat hadir langsung.
Dengan demikian, nilai budaya dapat dirasakan bersama.
Kegiatan ini berpusat di Petilasan Mbah Maridjan, Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.
Di tempat sakral ini, Keraton menyampaikan syukur dan doa keselamatan melalui ubarampe ke Merapi.
Tradisi ini menautkan manusia, alam, dan Tuhan dalam satu napas kebijaksanaan.
Selain sakral, Labuhan Merapi juga bersifat edukatif.
Bahkan, acara ini menjadi ruang wellness budaya, menenangkan batin sekaligus menguatkan identitas.
Rangkaian prosesi berlangsung dua hari.
Pada hari pertama, kirab, wilujengan, dan wayang kulit mengalirkan makna.
Kemudian, renungan malam mengajak hening dan refleksi.
Pada hari kedua, prosesi puncak digelar sejak pagi.
Perjalanan menuju lokasi labuhan menuntut kesiapan fisik dan batin.
Karena itu, panitia mengimbau peserta menjaga sopan santun dan keselamatan.
Akhirnya, Labuhan Merapi bukan sekadar tontonan.
Sebaliknya, ia menjadi ajakan hidup selaras dengan alam.
Rangkaian acara antara lain, Senin, (19/1/ 2026).
Pasrah Tinampi Labuhan, Kirab Labuhan, Wilujengan, Ringgit Wacucal (Wayang Kulit), Renungan Malam.
Dilanjutkan Selasa, (20/1/ 2026), Samektaaken Ubo Rampe,
Budhal Sri Manganti, Labuhan Hageng Merapi (Puncak Prosesi). (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima/Red).




























































































Tinggalkan Balasan