
Sleman,suarainfo.com-Dengan semangat yang terus mengalir, Jogja Culture Wellness Festival (JCWF) 2025 #4 kembali mengangkat arah besar wellness Indonesia. Mengusung tema “Natural Beauty, Family and Inner Child”, festival yang berlangsung di Mustika Yogyakarta Resort and Spa, Sabtu, (22/11/2025). ini menghadirkan perpaduan anggun antara tradisi, sains, dan kesadaran batin.

Acara berlangsung hangat. Karena itu, para peserta merasakan bahwa JCWF tidak sekadar festival. Sebaliknya, ia menjelma menjadi ruang pulang,ruang bagi tubuh, pikiran, dan relasi keluarga untuk bernapas kembali.

Dalam pembukaan, GKR Bendara, Chairwoman JCWF 2025, menegaskan bahwa Yogyakarta siap menjadi pusat gravitasi wellness Nusantara. Beliau menyampaikan bahwa wellness sejatinya adalah gerakan kesadaran yang menghubungkan tradisi, inovasi, dan sains dalam satu harmoni.

Beliau berkata, “Wellness bukan tren. Wellness adalah jembatan antara pengetahuan leluhur dan sains modern yang memuliakan tubuh, pikiran, dan jiwa.” Karena itu, tema “Natural Beauty, Family and Inner Child” semakin terasa relevan,menguatkan pentingnya penyembuhan relasi keluarga, pemulihan batin, dan rekoneksi manusia dengan alam.

Selanjutnya, sesi diskusi menghadirkan empat narasumber yang memperkaya perspektif, antara lain ada,
Fadli Fahmi Ali (Werkudara Group) menegaskan pentingnya perjalanan wellness berbasis pengalaman bermakna.
Dewi Soesilowati (Rumah Atsiri Indonesia) menonjolkan kekuatan botanical, heritage, dan storytelling sebagai medium penyembuhan.
Seno Jati (Cakra Tri Sad Nawa) menghidupkan kembali praktik energi, harmoni, dan keseimbangan batin dalam laku Jawa.
dr. Herin (Forest Therapy Indonesia) menekankan perlunya pendekatan ilmiah dalam terapi alam dan kesehatan holistik.Karena keempat perspektif bergerak dalam satu arus, diskusi ini membuktikan bahwa wellness adalah perjalanan pulang ke diri,perjalanan yang memadukan kealamian, keluarga, dan penyembuhan inner child.

Moderator Agus Budi Rachmanto merangkum bahwa Yogyakarta memiliki seluruh unsur penting sebagai living laboratory wellness: tradisi yang kuat, alam yang otentik, komunitas yang dinamis, dan dukungan sains yang terus berkembang.

Ia menegaskan bahwa, “Wellness bukan hanya program. Wellness adalah ekosistem, dan ekosistem ini harus kita bangun bersama.”ungkapnya. (Raja)
Editor : (R.M.Neutron Aprima/Red).





























































Tinggalkan Balasan