
Yogyakarta, suarainfo.com– Gus Muwafiq menghidupkan semangat kebersamaan dalam PBTY XXI–2026. Ia hadir di tengah gelaran budaya yang mengusung tema Warisan Budaya sebagai Kekuatan Bangsa.
Panitia menghadirkan Ngabuburit Sehat “Takjil bersama PBTY”. Peserta bergerak selaras. Nafas menyatu. Energi sore Ramadan terasa damai namun bertenaga.
PBTY XXI tidak sekadar pesta budaya. Event ini telah bertahan lebih dari dua dekade dan menjelma simbol keberagaman dan city of tolerance Yogyakarta.

Ketua Umum Panitia PBTY XXI, Jimmy Sutanto, menegaskan komitmen itu saat pembukaan, Rabu (25/2/2026) malam. Ia menyebut perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan yang saling melengkapi.
Panggung PBTY XXI memancarkan warna. Tari naga dan barongsai meliuk tegas. Wayang Potehi berkisah lantang. Pameran Pandu Tionghoa, launching buku, ruang ramal, batik peranakan, hingga Chinese cosplay dan street magician memikat ribuan pasang mata. Panitia juga menggelar lomba menyanyi, tari, Chinese costume, bazar kuliner, dan karnaval budaya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengapresiasi perjalanan PBTY yang memasuki tahun ke-21. Ia memaknai PBTY sebagai perjumpaan nilai Tionghoa dan Jawa. Dua bahasa moral bertemu dalam satu pesan: keseimbangan sebagai fondasi peradaban.
Tahun ini bertepatan dengan Tahun Kuda Api 2577 Kongzili. Sultan mengajak masyarakat melangkah berani dengan semangat menyala, namun tetap sabar, tidak grusa-grusu, dan tidak mudah tersulut.
PBTY XXI kian bermakna karena hadir di bulan Ramadan. Panitia membuka ruang tausiah, berbagi takjil, dan kebersamaan lintas budaya. PBTY menegaskan bahwa kebudayaan dan ketakwaan berjalan beriringan.
Jogja kembali membuktikan diri sebagai rumah bersama. Budaya menyala. Iman terjaga. Harmoni terasa nyata. (Raja/*).






































































































Tinggalkan Balasan