
Yogyakarta-(suarainfo.com)- Indonesia memimpin 59% produksi sawit dunia. Namun, tekanan global terus meningkat. Oleh karena itu, pemerintah mempercepat penguatan kapasitas negosiator.
Workshop internasional digelar di Hotel Harper Malioboro, (7/4/2026). Kegiatan ini menjadi langkah nyata memperkuat diplomasi sawit Indonesia.
Ir. Belinda Arunarwati Margono menegaskan, publik sering salah paham. Sawit tidak selalu identik dengan deforestasi. Faktanya, Indonesia memiliki sistem monitoring yang kuat.
Namun demikian, narasi global masih bias. Karena itu, Indonesia harus aktif meluruskan fakta berbasis data.
UNDP menilai data sawit masih tersebar. Maka dari itu, integrasi data menjadi prioritas utama. Dengan data tunggal, negosiator dapat berbicara lebih objektif dan kuat.
Selain itu, forum ini mendorong kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha bersatu menghadapi regulasi global seperti EUDR.
PSPD UGM meluncurkan pelatihan hybrid. Program ini mencakup strategi negosiasi, diplomasi publik, dan pemahaman komoditas sawit.
Selanjutnya, peserta akan mengikuti kunjungan lapangan. Mereka akan melihat langsung praktik sawit berkelanjutan di berbagai daerah.
Indonesia tidak hanya bertahan. Sebaliknya, Indonesia bergerak maju. Ekspor sawit meningkat ke Tiongkok dan Mesir.
Lebih jauh lagi, peluang bioavtur dan Sustainable Aviation Fuel (SAF) mulai terbuka. Ini menjadi peluang emas memperkuat daya saing global.
Kini saatnya semua pihak bergerak. Dukung sawit berkelanjutan berbasis data. Perkuat narasi nasional di panggung global.
Karena itu, diplomasi bukan sekadar bertahan. Diplomasi adalah langkah maju untuk masa depan Indonesia.
PSPD UGM adalah lembaga riset independen. Lembaga ini fokus pada perdagangan global yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. (Raja).
Editor : (RM.Neutron Aprima/Red).





























































































































































Tinggalkan Balasan