MARIN Nusantara Nilai Terusan Kra Bukan Ancaman Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

MARIN Nusantara Nilai Terusan Kra Bukan Ancaman Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

168
0
BERBAGI
FOTO: Direktur Maritim Research Institute (MARIN) Nusantara, Makbul Muhammad/SuaraInfo.com

Makassar, SuaraInfo.com — Direktur Maritim Research Institute (MARIN) Nusantara, Makbul Muhammad menilai bahwa indonesia tak perlu khawatir berlebihan dengan akan beralihnya lalu lintas pelayaran internasional yang menghubungkan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang selama ini melewati selat malaka yang kemudian beralih melewati terusan Kra dinegara Thailand.

“Pembangunan terusan Kra ini adalah sebuah keniscayaan, apalagi pemerintah China telah digadang-gadang akan membantu  thailand membangun Terusan Kra. Ingat bahwa teknologi selalu bergerak maju dan sulit untuk dibendung, begitupun dengan terobosan inovasi dan teknologi dalam dunia pelayaran internasional yang terus didesak dengan kebutuhan kecepatan hilirisasi logistik  internasional”, ujar Makbul Muhammad kepada media, Senin (20/03/2017).

“Dengan adanya terusan Kra, dipastikan tidak sepenuhnya juga kok  pelayaran internasional akan beralih, dengan jumlah  219 kapal perharinya yang melewati selat malaka, maka tentu selat malaka masih menjadi pilihan pelayaran internasional”, terang  Makbul.

Lebih lanjut Makbul menjelaskan, bahwa kita harus melihat selat malaka dari dua dimensi, yang pertama dimensi ekonomi yaitu bagaimana pemanfaatan posisi strategis selat malaka yang dilalui rata-rata 80.000 kapal pertahunnya bisa memberi efek ekonomi kepada indonesia.

“Tapikan selama ini tidak ada aktifitas ekonomi terhadap pelayaran internasional diselat malaka oleh Indonesia, Artinya Indonesia selama ini tidak ada ketergantungan ekonomi terhadap selat malaka. keuntungan ekonomi justru dimaksimalkan oleh negara tetangga Singapura yang dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan pelayaran dengan pelabuhan transhipment berstandar ISPS Code, Singapura ini seperti rest area jika di analogikan selat malaka adalah jalan tol didarat” tuturnya.

Nah, lanjutnya, kemudian dimensi Geopolitik, dengan selat malaka seolah  indonesia memiliki bargaining dengan posisi tawar menjadi penentu bagi percaturan geopolitik kontemporer. “Memang kemudian posisi strategis suatu negara bisa mempengaruhi kedudukannya dalam konteks pergaulan internasional, tapi kekuatan ekonomi dan politiknya suatu negara sangat menentukan dalam percaturan geopolitik dunia saat ini,” urainya.

Yakni, tambahnya lagi, bagaimana negara tersebut mapan dan mandiri secara ekonomi dan sejauhmana negara tersebut mampu menggalang kekuatan dalam beraliansi dipanggung internasional.

“Nah dengan kekuatan ekonomi dan politik inilah serta bonus geografi dan demografi yang menjadi landasan untuk mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia,” tegas Makbul Muhammad.(**)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

16 − 9 =